Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi masih melemah dalam jangka pendek pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026. Proyeksi itu disampaikan analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, dan analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova. Meski demikian, analis menilai masih ada peluang bagi indeks untuk berbalik arah (rebound).
Pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, IHSG ditutup di level 5.373, turun 66,16 poin atau 1,22 persen, dengan nilai transaksi Rp14,91 triliun. Sebanyak 520 saham melemah, 161 saham menguat, dan 112 saham stagnan.
Herditya memproyeksikan IHSG terkoreksi ke rentang 5.181-5.325, dengan peluang penguatan ke level 5.460-5.651. Level support yang ia cermati berada di 5.185 dan 4.915, sedangkan resistance di 5.460 dan 5.563. Sementara itu, Ivan menilai IHSG masih berpeluang rebound karena koreksi Senin tidak menembus level 5.320, dengan kemungkinan kenaikan ke 5.561.
IHSG adalah indeks yang menggambarkan pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Bila IHSG melemah, artinya secara rata-rata harga saham-saham di bursa sedang turun, dan sebaliknya bila menguat.
Proyeksi pelemahan dalam jangka pendek bukan berarti pasar dipastikan jatuh terus. Dalam analisis teknikal, pelemahan dan rebound adalah dua skenario yang selalu berjalan beriringan: selama ada tekanan jual, ada pula level-level harga tempat pembeli berpotensi masuk kembali.
Mengapa level 5.460-5.651 disebut sebagai peluang rebound? Karena pada rentang tersebut analis melihat adanya area yang secara historis cukup kuat menahan penurunan. Bila indeks mampu bertahan dan berbalik di area itu, peluang penguatan lanjutan terbuka.
Bagi investor, proyeksi seperti ini adalah bahan pertimbangan, bukan kepastian. Pergerakan IHSG dipengaruhi banyak hal, mulai dari sentimen global, nilai tukar rupiah, harga komoditas, hingga kinerja keuangan perusahaan-perusahaan tercatat.
Karena itu, pelaku pasar diimbau tetap disiplin mengelola risiko dan menyesuaikan keputusan investasinya dengan profil risiko masing-masing, alih-alih hanya mengandalkan satu proyeksi harian.


