Foto cerita karya fotografer Agence France-Presse (AFP), Chaideer Mahyuddin, tentang banjir bandang yang melanda Aceh pada akhir 2025 meraih penghargaan Silver pada ajang Asian Media Awards 2026. Penghargaan itu diraih dalam kategori Fotografi Iklim Terbaik, pada acara yang digelar di Singapura, Senin, 26 Oktober 2026.
Asian Media Awards adalah ajang penghargaan bagi karya-karya media di Asia. Kategori foto cerita menilai rangkaian foto yang mampu menceritakan sebuah peristiwa secara utuh, bukan sekadar satu gambar tunggal yang kuat.
Mengapa karya tentang banjir Aceh ini dinilai menonjol? Karena banjir bandang akhir 2025 meninggalkan kerusakan besar dan kesedihan mendalam bagi warga Aceh. Lewat rangkaian fotonya, Chaideer merekam apa yang dialami warga: rumah yang rusak, harta benda yang hanyut, dan upaya bertahan di tengah lumpur dan puing.
Foto jurnalistik seperti ini bekerja dalam diam. Ia tidak berteriak, tetapi ia membuat pembaca yang jauh dari lokasi bencana ikut merasakan skala kerusakan dan kemanusiaan di balik angka-angka korban dan kerugian.
Penghargaan Silver menjadi pengakuan atas kerja jurnalistik yang berisiko dan melelahkan. Fotografer bencana bekerja di medan yang sulit, dengan akses terbatas, demi memastikan peristiwa besar tidak berlalu begitu saja tanpa dokumentasi. Karya Chaideer lainnya, “The Last Hope”, sebelumnya juga meraih juara pertama kategori Alam dan Lingkungan pada Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2026 di Bogor.
Chaideer berharap penghargaan ini menarik perhatian lebih luas pada kerusakan hutan dan lingkungan di Aceh dan Sumatra. Banjir akhir 2025 di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra menelan lebih dari 1.000 korban jiwa, dan menjadi pengingat keras tentang kaitan antara kerusakan ekologis dan risiko bencana.
Prestasi ini juga menjadi kebanggaan bagi dunia foto jurnalistik Indonesia, khususnya Aceh. Dari tanah yang pernah dilanda bencana, lahir karya yang diakui di tingkat Asia, dan menjadi pengingat bahwa cerita dari daerah layak mendapat panggung internasional.


