Friday, 30 October 2026
Pendidikan

Mengelola Emosi Guru: Tegas Tanpa Merendahkan dan Mendidik Tanpa Menghukum

Mengelola Emosi Guru: Tegas Tanpa Merendahkan dan Mendidik Tanpa Menghukum

BIREUEN — Kemampuan mengelola emosi menjadi salah satu penentu kualitas interaksi guru dengan siswa. Gagasan itu disampaikan Cut Hafsah, guru bahasa Inggris SD Sukma Bangsa Bireuen, dalam tulisannya tentang pengelolaan emosi guru: bukan soal tidak boleh marah, melainkan soal memilih respons yang tepat ketika kesabaran diuji.

Gambaran itu mudah dikenali di kelas satu SD pada pagi hari. Sebagian anak masih ingin bermain, sebagian berbicara dengan teman, sebagian belum siap mengeluarkan buku, ada yang berjalan-jalan di kelas, bahkan ada yang menangis karena tidak mau ditinggalkan orangtua. Dalam suasana seperti itu, guru bisa merasa lelah atau kesal, tetapi perlu menenangkan diri sebelum berbicara dan bertindak.

Cut Hafsah menekankan, mengelola emosi tidak sama dengan meniadakan emosi atau memaksa diri selalu terlihat tenang. Mengelola emosi berarti mengenali apa yang sedang dirasakan, memahami penyebabnya, memberi ruang untuk berpikir, lalu memilih respons yang tepat. Guru juga manusia yang dapat merasa lelah, kecewa, marah, cemas, atau tertekan akibat beban pekerjaan, tuntutan administrasi, perilaku siswa yang beragam, persoalan komunikasi dengan orangtua, hingga dinamika hubungan antarrekan kerja.

Rujukan yang ia pakai adalah Daniel Goleman (1995) tentang kesadaran diri dan pengelolaan diri sebagai bagian kecerdasan emosional, serta Patricia A. Jennings dan Mark T. Greenberg (2009) tentang kompetensi sosial-emosional guru yang berkaitan dengan kualitas hubungan guru-siswa, pengelolaan kelas, dan iklim kelas yang mendukung pembelajaran. Respons guru yang terbawa emosi dapat berujung bentakan, mempermalukan, atau hukuman berlebihan; sebaliknya, guru yang mengambil jeda akan mencari tahu penyebab perilaku siswa lalu menegur secara tegas tetapi tetap mendidik.

Manfaatnya tidak berhenti di ruang kelas. Ketika guru mampu mengendalikan kemarahan, siswa merasa lebih aman untuk bertanya, menyampaikan pendapat, bahkan mengakui kesalahan, sehingga kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan kegagalan. Di lingkungan sekolah, guru yang matang secara emosional juga lebih mudah mendengarkan, menyampaikan pendapat dengan santun, dan mencari solusi tanpa memperbesar persoalan, sehingga menjadi penyejuk ketika terjadi ketegangan.

Tanggung jawab itu, menurut Cut Hafsah, tidak sepenuhnya berada di pundak guru. Sekolah perlu menciptakan budaya kerja yang memberi ruang bagi guru mengelola emosinya, lewat komunikasi terbuka dan dukungan kepala sekolah. Latihan yang ia sarankan bersifat sederhana dan sadar: mengenali pemicu emosi, mengambil napas dan jeda sebelum merespons, refleksi setelah pembelajaran, berdiskusi dengan rekan kerja yang dipercaya, dan menulis jurnal refleksi. Meminta bantuan pun bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan profesi.

Pada akhirnya, guru yang berhasil mengelola emosi bukanlah guru yang tidak pernah marah. Ia adalah guru yang tegas tanpa merendahkan, menyampaikan kekecewaan tanpa melukai, memilih mendidik daripada sekadar menghukum, dan memilih dialog daripada konflik. Keberhasilan guru pun tidak hanya terlihat dari banyaknya materi yang diajarkan, tetapi dari seberapa baik ia menghadirkan suasana yang membuat setiap anak merasa dihargai, aman, dan terdorong untuk terus belajar.

Foto ilustrasi: Media Indonesia.

Sumber: Media Indonesia (tulisan Cut Hafsah), “Mengelola Emosi Guru”, https://mediaindonesia.com/opini/948608/mengelola-emosi-guru

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *