Selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperluas akses dan pemerataan pendidikan sebagai bagian dari Asta Cita, khususnya penguatan sumber daya manusia. Programnya meliputi revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, bantuan pendidikan, pengembangan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), dan peningkatan profesionalisme guru lewat Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan perbaikan sarana menjadi bagian penting dari kualitas pembelajaran, dengan visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua” sesuai Asta Cita poin keempat tentang pembangunan manusia Indonesia yang unggul. Program ini menyasar seluruh anak Indonesia, termasuk di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Revitalisasi satuan pendidikan berjalan sejak 2025. Pada tahun pertama, program ini menjangkau 16.167 satuan pendidikan, melampaui target awal 10.440. Memasuki 2026, sasaran awal 11.744 satuan pendidikan diperluas setelah Presiden mengarahkan penambahan 60 ribu satuan pendidikan, dan Kemendikdasmen mendapat persetujuan tambahan 40 ribu sasaran dalam dua tahap. Hingga Oktober 2026, sebanyak 35.769 satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA telah menandatangani perjanjian kerja sama revitalisasi secara swakelola, dan 4.374 sekolah telah menyelesaikan pembangunan, dengan target seluruh pekerjaan rampung akhir tahun.
Manfaatnya dirasakan langsung di daerah. SD Negeri 173281 Lumban Julu, Tapanuli Utara, menerima Rp775,18 juta pada 2025 untuk memperbaiki dan melengkapi fasilitas, dan murid kelas IV Arion Maruli Hurabarat mengaku semakin bersemangat belajar. Di Manokwari, Papua Barat, murid SMP Advent Jesenia Nelavita Wondoy memaknai bantuan itu sebagai harapan masa depan. Di SLB Negeri Kota Magelang, tambahan dua ruang kelas memberi ruang belajar yang lebih sesuai bagi murid berkebutuhan belajar berbeda.
Digitalisasi pembelajaran diperluas lewat Papan Interaktif Digital (IFP/PID), koneksi internet, dan platform pembelajaran, termasuk hingga Papua dan Nusa Tenggara Timur. Guru IPS SMP Negeri Wederok, Theobaldus Banafanu, menyebut materi visual di papan digital membuat murid tidak lagi mengantuk di kelas. Murid kelas VIII SMP Negeri 2 Menggala, Tulang Bawang, Fatria Arina Aru, merasakan belajar lebih semangat berkat layar sentuh dan permainan edukatif.
Program SNT dirancang mengintegrasikan layanan pendidikan, pengembangan karakter, kompetensi guru, dan fasilitas pembelajaran. Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 17 lokasi SNT beroperasi di 13 provinsi dan melayani 1.360 murid SMP dan SMA, dengan pembangunan di 20 kabupaten/kota lain disiapkan. Murid SNT 7 Bogor, Danesh Chayra, merasakan pembelajaran proyek STEAMS yang mengaitkan teknologi dengan persoalan lingkungan sekitar.
Untuk guru, sepanjang 2025 sebanyak 804.157 guru mengikuti PPG bagi Guru Tertentu sebagai percepatan sertifikasi. Pada 2026, penyelenggaraan PPG diperkuat lewat kerja sama dengan 164 lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Guru sejarah SMA Negeri 1 Samarinda, Alexander Rendi, mengaku PPG membekalinya asesmen awal untuk memetakan kemampuan murid sebelum menentukan metode pembelajaran.
Ke depan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah sekolah yang dibangun atau fasilitas yang disediakan, melainkan dari semakin terbukanya kesempatan setiap anak Indonesia untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Sumber: Media Indonesia. Baca berita asli: Dukung Asta Cita, Dua Tahun Kemendikdasmen Perluas Akses dan Tingkatkan Mutu Pendidikan.


