Menangis, berteriak, hingga berguling di tempat umum adalah pemandangan yang membuat banyak orang tua cemas. Padahal, ledakan emosi semacam ini merupakan respons perkembangan yang normal pada anak, terutama anak berusia di bawah 5 tahun.
Tantrum umumnya mulai muncul pada usia 15 hingga 18 bulan dan berlangsung hingga sekitar usia 5 tahun. Frekuensi dan intensitas tertingginya terjadi pada usia 2 hingga 3 tahun. Data penelitian yang dikutip sumber menyebut 87 persen anak usia 18–24 bulan dan 91 persen anak usia 30–36 bulan pernah mengalami tantrum. Sebagian besar ledakan emosi berlangsung 2 hingga 15 menit sebelum anak kembali tenang.
Menurut psikolog klinis Annia Raja, tantrum terjadi ketika sistem saraf anak kewalahan hingga melampaui kapasitasnya, sehingga perasaan muncul lebih cepat daripada kemampuan anak mengungkapkannya dengan kata-kata atau menenangkan diri. Dokter spesialis tumbuh kembang anak Elizabeth Harstad dari Boston Children’s Hospital menambahkan, tantrum sering dipicu ketidaksesuaian antara keinginan anak untuk mandiri dan keterbatasannya dalam berkomunikasi, ditambah temperamen bawaan yang lebih reaktif.
Penyebab paling umum meliputi lapar, lelah, kewalahan, stimulasi berlebih, dan frustrasi. Sebelum emosi memuncak, orang tua dapat mengamati tanda awal seperti merengut, mengepalkan tangan, merengek dengan nada suara lebih keras, mengeluh lapar atau lelah, menutup telinga, atau memicingkan mata saat menerima arahan.
Untuk mencegah ledakan membesar, orang tua disarankan menurunkan stimulasi dengan mengajak anak beristirahat, menawarkan air minum atau camilan, dan menurunkan posisi tubuh sejajar dengan anak. Kata “tidak” sebaiknya dipakai tegas hanya untuk situasi berbahaya, sementara situasi lain dialihkan dengan kalimat positif. Empati juga penting: kalimat sederhana seperti mengakui kekesalan anak membuat anak merasa dipahami. Memberi pilihan kecil, misalnya berjalan sendiri atau digendong, membantu anak merasa memegang kendali. Yang tak kalah penting, orang tua perlu tetap tenang karena ketenangannya menstabilkan emosi anak, serta memuji perilaku baik agar perilaku itu terulang.
Setelah tantrum mereda, pelukan dan nada suara hangat membantu memulihkan hubungan. Saat anak benar-benar tenang, orang tua dapat mengajaknya berbincang sederhana tentang perasaan dan langkah lain di kesempatan berikutnya. Jika orang tua sempat berteriak, permintaan maaf dapat mempererat ikatan. Namun bila tantrum sangat sering, intens, membahayakan, atau berlanjut di luar rentang usia normal, konsultasi ke dokter spesialis anak atau psikolog anak disarankan.
Sumber: Media Indonesia. Baca berita asli: Mengenal Penyebab Tantrum Anak dan Cara Mencegahnya Sejak Dini.


