Sebuah studi yang dipimpin Southwest Research Institute menggunakan Teleskop Antariksa James Webb milik NASA untuk meneliti butiran es di koma komet antarbintang 3I/ATLAS, objek antarbintang ketiga yang pernah teridentifikasi. Hasilnya menunjukkan bahwa butiran es komet tersebut sangat kecil, sekitar satu mikron atau kurang, dan terdiri dari campuran es air dan debu.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal The Astrophysical Journal Letters pada Oktober 2026. Penelitian ini menjadi sorotan karena 3I/ATLAS berasal dari luar Tata Surya. Komet antarbintang adalah benda es kecil yang terbentuk di piringan gas dan debu di sekitar bintang lain, kemudian melintas ke wilayah Tata Surya kita. Setiap objek seperti ini membawa petunjuk mengenai kondisi tempat ia dilahirkan.
Tim peneliti mengamati 3I/ATLAS dengan instrumen Near-Infrared Spectrograph milik Webb sebanyak tiga kali antara Agustus 2025 dan April 2026, sebelum dan sesudah komet tersebut mencapai titik terdekatnya dengan Matahari. Instrumen ini bekerja dengan memecah cahaya menjadi komponen-komponen panjang gelombangnya, sehingga para peneliti bisa membaca komposisi dan keadaan fisik material yang dilepaskan komet.
Yang membuat para peneliti penasaran adalah sidik jari cahaya komet ini. Es air biasanya meninggalkan jejak yang khas dalam cahaya inframerah: serapan yang dalam di sekitar 3 mikron serta dua serapan yang lebih lemah di sekitar 1,5 dan 2,0 mikron. Pada 3I/ATLAS, serapan 3 mikron tampak kuat, tetapi serapan 1,5 dan 2,0 mikron sangat lemah atau bahkan tidak ada, berbeda dengan sebagian besar komet es yang dikenal.
Penjelasan yang paling sesuai dengan model adalah bahwa butiran es 3I/ATLAS berukuran sekitar satu mikron atau lebih kecil dan tercampur debu. Dalam butiran sekecil dan sedebu itu, cahaya hanya menempuh jarak pendek di dalam es, sehingga serapan pada panjang gelombang yang lebih pendek melemah, sementara serapan 3 mikron tetap menonjol. Dengan kata lain, yang membedakan 3I/ATLAS bukanlah ukuran butirannya, melainkan seberapa banyak debu yang tercampur di dalam esnya.
Lebih menarik lagi, bentuk serapan 3 mikron pada 3I/ATLAS menyerupai spektrum sejumlah dunia es di balik Neptunus, yaitu objek trans-Neptunus yang diduga menyimpan material dari awal pembentukan Tata Surya. Kemiripan ini terutama terlihat pada objek yang spektrumnya juga menunjukkan tanda es karbon dioksida dan senyawa organik. Kesamaan tersebut memberi petunjuk bahwa bahan pembangun planet di sekitar bintang lain dan di Tata Surya kita mungkin memiliki sifat fisik yang sekelompok, mulai dari es yang relatif murni hingga es yang bercampur debu, dengan 3I/ATLAS berada di ujung yang berdebu.
Para peneliti juga mencatat bahwa sifat butiran di koma komet tampak berubah seiring waktu. Pada pengamatan terakhir pada April 2026, ketika komet mulai menjauhi Matahari, data menunjukkan adanya tambahan populasi butiran kaya es yang sedikit lebih besar, meski tetap sekitar satu mikron. Belum dapat dipastikan apakah perubahan itu disebabkan oleh perbedaan pemanasan Matahari pada setiap pengamatan atau oleh material baru yang tersingkap saat permukaan komet terkikis di dekat Matahari. Pertanyaan terbuka ini menjadi pekerjaan lanjutan bagi tim peneliti.
Jika terkonfirmasi, temuan ini mengisyaratkan bahwa bentuk fisik es air sudah terbentuk sejak awal di dalam piringan pembentuk planet dan setidaknya sebagian terjaga dalam benda-benda es yang terbentuk di sana. Pengamatan Webb terhadap komet Tata Surya dan pengunjung antarbintang baru di masa depan akan membantu menguji apakah 3I/ATLAS merupakan contoh yang umum atau justru pengecualian.
Apa poin penting dari berita ini?
- Studi yang dipimpin Southwest Research Institute menggunakan Teleskop James Webb untuk meneliti butiran es komet antarbintang 3I/ATLAS.
- Butiran es komet itu berukuran sekitar satu mikron atau kurang dan terdiri dari campuran es air dan debu.
- Serapan 3 mikron pada 3I/ATLAS kuat, tetapi serapan 1,5 dan 2,0 mikron sangat lemah atau tidak ada, berbeda dengan sebagian besar komet es.
- Bentuk serapan esnya menyerupai sejumlah dunia es di balik Neptunus, yang memberi petunjuk tentang bahan pembangun planet di sekitar bintang lain.


