Perancang kostum film-film besar Hollywood menyampaikan pesan yang mungkin mengejutkan banyak penonton: membuat kostum untuk cerita masa kini tidak lebih mudah daripada membuat kostum periode. Bahkan, sejumlah perancang menilai pekerjaan kontemporer justru lebih sulit, karena hasilnya harus tampak alami, tidak mencolok, dan tetap mampu bercerita tentang karakter yang memakainya.
Pandangan itu disampaikan para perancang kostum yang karyanya menghiasi film-film yang sedang dibicarakan menjelang musim penghargaan, termasuk One Battle After Another, Sinners, Marty Supreme, Die My Love, The Chronology of Water, dan The Testament of Ann Lee. Nama-nama seperti Erin Benach, Shirley Kurata, Keri Langerman, Laura Frecon, Shiona Turini, Stacey Battat, dan Kate Hawley menjadi bagian dari percakapan tersebut.
Alasan utamanya sederhana tetapi menantang. Kostum periode biasanya langsung dikenali penonton lewat siluet dan detail khas zamannya. Sebaliknya, kostum kontemporer harus menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Penonton tidak boleh merasa sedang melihat kostum, melainkan melihat seseorang yang benar-benar hidup di dunia cerita itu. Padahal, untuk mencapai kesan natural tersebut, perancang harus bekerja sangat detail.
Kesulitan itu muncul sejak tahap pencarian. Perancang harus menemukan pakaian yang tepat untuk karakter tertentu, bukan sekadar pakaian yang sedang tren. Sebuah kaus, celana, atau jaket harus sesuai dengan latar ekonomi, pekerjaan, usia, dan kepribadian tokohnya. Ketika pakaian yang dicari tidak tersedia di pasaran, perancang harus membuatnya sendiri atau mengubah pakaian yang sudah ada agar sesuai kebutuhan cerita.
Detail kecil menjadi senjata utama mereka. Warna yang sedikit lebih pudar, potongan yang sedikit lebih longgar, atau kondisi pakaian yang sudah dipakai bertahun-tahun bisa memberi tahu penonton tentang perjalanan hidup seorang tokoh tanpa perlu dialog tambahan. Perancang juga harus memikirkan pengulangan: pakaian yang sama harus bisa tampil konsisten dari satu adegan ke adegan lain, seolah memang dipakai oleh orang yang sama dalam kehidupan nyata.
Untuk mencapai itu, para perancang mengandalkan riset yang serius. Mereka mempelajari gaya hidup kelompok sosial tertentu, berburu pakaian bekas, dan melakukan penyesuaian halus pada warna, potongan, serta kondisi bahan. Setiap keputusan kecil harus selaras dengan cerita, suasana adegan, dan arahan sutradara. Tidak ada ruang untuk detail yang sekadar terlihat bagus tetapi tidak masuk akal bagi karakternya.
Data yang dikutip dalam pemberitaan itu menunjukkan bahwa penghargaan untuk desain kostum kontemporer bukanlah hal baru. Sejak kategori desain kostum dipisah pada 1948, tercatat ada 35 nominasi Oscar untuk karya kontemporer. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa kostum masa kini telah lama mendapat tempat dalam penilaian industri film, meski sering luput dari perhatian penonton awam.
Harapan para perancang kini adalah pengakuan yang setara. Mereka ingin pekerjaan kontemporer dinilai dengan bobot yang sama seperti kostum periode, karena tingkat kesulitan dan kontribusinya terhadap cerita tidak kalah besar. Kostum yang baik, menurut mereka, adalah kostum yang tidak disadari penonton sebagai kostum, tetapi justru membuat karakter terasa nyata.
Bagi penonton, pemahaman ini bisa mengubah cara menonton film. Lain kali, perhatikan pakaian yang dikenakan tokoh utama: apakah ia tampak seperti orang sungguhan, apakah pakaiannya konsisten, dan apakah ada detail kecil yang bercerita tentang hidupnya. Di balik kesan sederhana itu, ada kerja panjang para perancang kostum yang jarang mendapat sorotan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Perancang kostum menilai kostum kontemporer tidak lebih mudah daripada kostum periode, bahkan bisa lebih sulit.
- Kostum masa kini harus tampak alami dan tidak mencolok, tetapi tetap membangun karakter lewat detail kecil.
- Perancang memakai riset, pakaian bekas, pakaian buatan khusus, dan penyesuaian warna serta potongan.
- Sejak kategori desain kostum dipisah pada 1948, tercatat 35 nominasi Oscar untuk desain kostum kontemporer.
- Para perancang berharap karya kontemporer mendapat pengakuan setara dengan kostum periode.


