Monday, 2 November 2026
Hollywood

Dustin Hoffman Sebut Syuting The Graduate Pengalaman Buruk, Sempat Berkali-kali Ingin Mundur

Dustin Hoffman dalam film The Graduate

Dustin Hoffman membuka kembali kenangan pahit di balik salah satu film paling berpengaruh dalam kariernya. Dalam sebuah acara bincang-bincang di New York, pemeran Benjamin Braddock itu menyebut proses syuting film The Graduate sebagai pengalaman yang buruk, meski film tersebut pada akhirnya mengubah jalan hidupnya dan mengangkat namanya ke jajaran aktor besar Hollywood.

Hoffman menyampaikan pengakuan itu dalam acara di 92NY, New York, untuk buku barunya yang berjudul Being Dustin Hoffman. Ia mengenang masa ketika usianya masih 29 tahun dan sutradara Mike Nichols baru berusia 35 tahun. Di mata Hoffman, hubungan kerja mereka saat itu jauh dari kata mulus. Ia merasa Nichols tidak menyukainya dan terus menekannya selama proses produksi berlangsung.

Tekanan itu, menurut Hoffman, muncul dalam berbagai bentuk. Ia harus menjalani banyak pengambilan ulang, berdebat soal cara bermain, hingga berselisih paham mengenai naskah. Pada satu titik, ia bahkan sempat diminta menjalani tes layar bersama aktor lain, termasuk Robert Redford, sebelum akhirnya peran Benjamin Braddock jatuh ke tangannya. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam karena ia merasa posisinya terus diuji.

Meski demikian, Hoffman tetap bertahan dan menyelesaikan film itu. Ia mengaku berulang kali mempertimbangkan untuk mundur di tengah jalan. Ada adegan-adegan yang baru ia pahami maknanya bertahun-tahun setelah film tersebut dirilis. Pernyataan ini memberi gambaran bahwa kesuksesan sebuah film di layar lebar tidak selalu sejalan dengan kenyamanan proses pembuatannya.

The Graduate sendiri dirilis pada 1967 dan menjadi tonggak penting dalam sejarah film Amerika. Film yang diadaptasi dari novel karya Charles Webb itu mengisahkan seorang lulusan perguruan tinggi yang kebingungan menentukan arah hidupnya. Naskahnya ditulis oleh Buck Henry dan Calder Willingham, sementara kursi produser diisi oleh Lawrence Turman. Anne Bancroft tampil sebagai lawan main Hoffman dan ikut mengangkat film ini menjadi perbincangan luas.

Secara komersial, film tersebut mencatat hasil yang luar biasa untuk zamannya. Laporan yang beredar menyebut film ini meraup lebih dari 100 juta dolar Amerika Serikat di kawasan Amerika Utara. Angka itu menegaskan bahwa karya yang lahir dari proses penuh ketegangan tetap bisa diterima luas oleh penonton dan bertahan sebagai klasik.

Pengakuan Hoffman ini juga membuka diskusi tentang cara kerja sutradara dan aktor pada era tersebut. Metode Nichols yang keras barangkali dimaksudkan untuk menggali penampilan terbaik, tetapi bagi Hoffman, cara itu terasa melelahkan dan menekan. Perbedaan cara pandang seperti ini kerap terjadi dalam produksi film, terutama ketika aktor muda berhadapan dengan sutradara yang memiliki visi sangat kuat.

Bagi penonton masa kini, kisah di balik layar ini menambah lapisan baru saat menonton ulang The Graduate. Film tentang kebimbangan anak muda itu ternyata dibuat oleh aktor muda yang juga sedang bergulat dengan keraguan atas dirinya sendiri. Ironi tersebut justru membuat film ini terasa semakin manusiawi, karena kegelisahan yang tampil di layar ternyata berakar pada pengalaman nyata pemerannya.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Dustin Hoffman menyebut proses syuting The Graduate sebagai pengalaman yang buruk.
  • Hoffman merasa sutradara Mike Nichols terus menekannya lewat banyak pengambilan ulang dan perselisihan soal naskah.
  • Hoffman sempat menjalani tes layar bersama aktor lain, termasuk Robert Redford, sebelum mendapat peran Benjamin Braddock.
  • Film yang dirilis pada 1967 itu meraup lebih dari 100 juta dolar Amerika Serikat di Amerika Utara.
  • Pengakuan ini disampaikan Hoffman dalam acara di 92NY, New York, untuk buku barunya, Being Dustin Hoffman.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *