Lukisan The Starry Night karya Vincent van Gogh, yang dibuat pada 1889, sudah lama menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan seni dan astronom. Pertanyaannya sederhana tetapi sulit dijawab: apakah lukisan itu sekadar luapan spontan yang terinspirasi suasana dini hari, atau justru gambaran yang realistis atas langit malam di atas Saint-Rémy, tempat Van Gogh melukisnya? Sebuah studi terbaru kini memberikan jawaban yang mengarah pada kemungkinan kedua.
Studi itu dilakukan bersama oleh SLLAB, produsen teleskop asal Korea Selatan, dan School of Space Research di Kyung Hee University. Hasilnya dipresentasikan dalam jurnal Scientific Reports, yang diterbitkan oleh Nature. Penulis pertamanya adalah Elijah Jeong-hyun Kim, CEO SLLAB sekaligus kandidat doktor di School of Space Research Kyung Hee University, yang selama bertahun-tahun membangun teleskop dan mengamati langit malam.
Selama lebih dari satu setengah abad, para peneliti lebih banyak menafsirkan lukisan itu dari sisi agama dan simbol. Baru pada pertengahan 1980-an muncul kajian yang menganalisis aspek astronomisnya. Sejarawan seni Albert Boime pada 1984 dan astronom Charles Whitney pada 1986 sama-sama memeriksa kesesuaian benda-benda langit dalam lukisan dan mengajukan identifikasi rasi bintang berdasarkan tanggal pada pertengahan Juni, tetapi keduanya sampai pada kesimpulan yang saling bertentangan.
Sejak itu, tidak ada lagi studi yang menguji lukisan tersebut dengan menggunakan geometri observasi, hingga studi terbaru ini hadir. Pendekatan tersebut menjadi kunci: bukan sekadar menebak rasi bintang dari bentuknya, melainkan menghitung posisi benda langit sebagaimana tampak dari sudut pandang pelukis pada waktu tertentu.
Studi terbaru itu mempersempit tanggal-tanggal ketika bulan sabit, Venus, dan gugus bintang Hyades, yang tampak berdekatan dalam lukisan, berada dalam bidang pandang Van Gogh pada saat yang sama. Ketiganya adalah unsur yang paling menonjol dalam komposisi langit lukisan tersebut, sehingga kesesuaiannya menjadi bukti kuat bahwa Van Gogh tidak sekadar mengarang langitnya.
Temuan ini penting karena mengubah cara kita memandang proses kreatif Van Gogh. Lukisan yang selama ini dianggap sebagai ekspresi batin yang liar ternyata juga menyimpan ketelitian pengamatan: posisi bulan, planet, dan gugus bintang yang digambarkan selaras dengan apa yang benar-benar terlihat di langit. Seni dan sains, dalam hal ini, tidak berdiri berseberangan, melainkan saling menguatkan.
Bagi para astronom, studi ini juga menunjukkan nilai dari pendekatan lintas disiplin. Dengan menggabungkan sejarah seni, astronomi observasi, dan geometri, sebuah lukisan berusia lebih dari seabad dapat diuji seperti data pengamatan. Misteri yang menggantung selama puluhan tahun pun akhirnya mendapat penjelasan yang dapat diperiksa, bukan sekadar tafsir.
Apa poin penting dari berita ini?
- Studi terbaru menyatakan The Starry Night kemungkinan menggambarkan langit malam yang realistis di atas Saint-Rémy, bukan sekadar imajinasi spontan.
- Studi itu dilakukan SLLAB bersama School of Space Research di Kyung Hee University dan diterbitkan di Scientific Reports.
- Kajian sebelumnya oleh Boime pada 1984 dan Whitney pada 1986 sampai pada kesimpulan yang saling bertentangan.
- Studi terbaru menggunakan geometri observasi untuk mempersempit tanggal ketika bulan sabit, Venus, dan gugus Hyades tampak berdekatan.
- Penulis pertamanya adalah Elijah Jeong-hyun Kim, CEO SLLAB dan kandidat doktor di Kyung Hee University.

