Tuesday, 3 November 2026
Lingkungan

Getaran Banjir Lahar Semeru Terekam Selama Enam Jam

Aliran sungai di lereng Gunung Semeru

Getaran banjir lahar Gunung Semeru terekam selama enam jam pada Senin, 2 November 2026, setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan gunung tersebut. Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat rangkaian aktivitas vulkanik dan hidrologi yang menuntut kewaspadaan warga di sekitar aliran sungai, terutama di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Periode pengamatan yang menjadi sorotan berlangsung pada pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Dalam rentang itu, petugas mencatat satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 65 milimeter dan durasi 21.600 detik atau setara enam jam penuh. Catatan ini menunjukkan bahwa aliran lahar berlangsung lama dan dipicu oleh tingginya curah hujan di hulu.

Selain getaran banjir, petugas juga mencatat satu kali gempa guguran dengan amplitudo 6 milimeter dan durasi 115 detik, serta 14 kali gempa letusan dengan amplitudo 10 hingga 25 milimeter dan durasi 31 hingga 153 detik. Secara visual, Gunung Semeru tertutup kabut sehingga asap kawah tidak teramati. Suhu udara di sekitar pos pengamatan berkisar 19 hingga 21 derajat Celsius.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, menjadi salah satu sumber keterangan dalam pemberitaan tersebut. Data pemantauan ini diteruskan melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, yang berwenang menetapkan status dan rekomendasi keselamatan bagi masyarakat di sekitar gunung.

Wilayah yang perlu diwaspadai mencakup aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, dan anak sungai Besuk Kobokan. Dalam pemberitaan itu juga disebut adanya tanggul jebol di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, yang menambah alasan bagi warga di sekitar aliran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan.

Status Gunung Semeru saat ini adalah Level III atau Siaga. Pada status ini, masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak. Larangan juga berlaku dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di luar jarak tersebut, karena potensi perluasan lahar hingga 17 kilometer. Selain itu, radius 5 kilometer dari kawah atau puncak harus steril dari aktivitas karena ancaman lontaran batu pijar.

Warga diminta mewaspadai awan panas, guguran lava, dan lahar, serta tidak beraktivitas di zona larangan. Hujan dengan intensitas tinggi di kawasan gunung bisa memicu banjir lahar secara tiba-tiba, bahkan ketika kondisi di permukiman tampak tenang. Karena itu, informasi dari pos pengamatan dan pemerintah daerah harus terus dipantau.

Peristiwa enam jam getaran banjir lahar ini menjadi pengingat bahwa musim hujan meningkatkan risiko di sekitar gunung api aktif. Kesiapsiagaan warga, kepatuhan terhadap zona larangan, dan kesiapan untuk mengungsi bila diminta petugas adalah langkah yang bisa menyelamatkan nyawa ketika alam menunjukkan tanda-tanda bahaya.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Getaran banjir lahar Gunung Semeru terekam selama enam jam pada Senin, 2 November 2026, pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
  • Gempa getaran banjir tercatat dengan amplitudo 65 milimeter dan durasi 21.600 detik.
  • Petugas juga mencatat gempa guguran dan 14 kali gempa letusan dalam periode yang sama.
  • Status Gunung Semeru adalah Level III (Siaga) dengan larangan aktivitas di sektor tenggara Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak dan radius 5 kilometer dari kawah.
  • Warga diminta mewaspadai awan panas, guguran lava, dan lahar, serta tidak beraktivitas di zona larangan.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *