Teleskop Antariksa Nancy Grace Roman milik NASA sukses meluncur dengan roket Falcon Heavy milik SpaceX pada Minggu, 30 Agustus 2026, pukul 18.26 WIB, dari Launch Complex 39A di Kennedy Space Center, Florida. Sekitar setengah jam setelah lepas landas, Roman berpisah dari roket dan memulai perjalanannya sendiri menuju kawasan titik Lagrange kedua Matahari-Bumi, yang berjarak sekitar 1,5 juta kilometer.
Perjalanan menuju titik L2 itu diperkirakan memakan waktu sekitar satu bulan. Di kawasan yang sama, Teleskop Antariksa James Webb juga mengorbit Matahari dari titik L2, meskipun kedua teleskop tidak berada pada orbit yang sama. Kehadiran Roman di sana akan membuka babak baru astronomi, karena teleskop ini dirancang bukan untuk menatap satu objek sedetail mungkin, melainkan untuk memetakan wilayah langit yang sangat luas dengan cepat dan tajam.
Gagasan Roman sudah dimulai sejak kisaran 2011, ketika para astronom mengajukan rancangan untuk mempelajari energi gelap lewat misi yang kemudian dikenal sebagai WFIRST atau Wide-Field Infrared Survey Telescope. Rancangan awal itu merupakan kerja sama NASA dan Departement of Energy untuk Joint Dark Energy Mission, dengan ide teleskop 1,3 meter dan satu instrumen spektrometer prisma pada panjang gelombang tampak sampai inframerah-dekat.
Arah misi berubah pada 2012, saat National Reconnaissance Office menyerahkan dua teleskop berdiameter 2,4 meter kepada NASA. Teleskop itu seukuran Hubble, tetapi dengan panjang fokus lebih pendek sehingga medan pandangnya menjadi lebih luas. Salah satu teleskop itu kemudian menjadi dasar rancangan WFIRST-AFTA, yang akhirnya berkembang menjadi Roman, lengkap dengan Wide Field Instrument dan instrumen Coronagraph untuk pengamatan langsung exoplanet. Pada 2016, NASA menetapkan WFIRST sebagai proyek resmi dan memilih titik L2 sebagai tempat operasinya, lalu empat tahun kemudian misi itu memperoleh nama baru: Teleskop Antariksa Nancy Grace Roman.
Kekuatan utama Roman terletak pada kameranya. Teleskop ini memiliki cermin utama berdiameter 2,4 meter, sama dengan Hubble. Kamera inframerah Wide Field Instrument yang dipasang padanya merupakan kamera 300 megapiksel yang disusun oleh 18 detektor, dengan medan pandang 100 kali lebih luas dari Hubble dan ketajaman yang sebanding. Artinya, dalam sekali pengamatan, Roman bisa memotret satu area langit yang kira-kira membutuhkan seratus foto berbeda dari Hubble untuk mencakup area yang sama.
Para astronom menggambarkannya dengan perumpamaan sederhana: jika Hubble melihat satu pohon, Webb menelisik detail daunnya, dan Roman melihat hutannya. Perumpamaan itu bukan pembagian tugas secara harfiah, karena Hubble dan Webb juga melakukan survei, sementara Roman juga bisa mempelajari objek individual. Namun perumpamaan itu menggambarkan perbedaan mendasar dalam jenis pertanyaan yang bisa diajukan: untuk memahami bagaimana galaksi tumbuh, astronom perlu melihat jutaan galaksi pada berbagai zaman, bukan hanya satu galaksi jauh.
Selama lima tahun, Roman akan memetakan miliaran galaksi dan mengukur bagaimana materi tersebar di alam semesta. Dari pengamatan bentuk ratusan juta galaksi yang tampak sedikit terdistorsi akibat pembelokan cahaya oleh gravitasi, Roman akan menelusuri bagaimana jaring kosmik berevolusi. Efek yang disebut pelensaan gravitasi lemah ini memungkinkan astronom memetakan distribusi materi, termasuk materi gelap yang tidak dapat dilihat secara langsung. Roman juga akan mengamati supernova dan distribusi galaksi pada jarak yang berbeda, sehingga astronom dapat menelusuri bagaimana laju pengembangan alam semesta berubah sepanjang waktu.
Pertanyaan itu berakar pada penemuan besar dalam kosmologi. Pada 1929, Edwin Hubble mengonfirmasi bahwa alam semesta mengembang, karena jarak antar galaksi terus bertambah. Pada 1998, para astronom menemukan hal yang lebih mengejutkan: alam semesta ternyata mengembang dipercepat. Para astronom menduga ada sesuatu yang tidak tampak yang menyebabkan percepatan itu, yang mereka sebut energi gelap, bersama materi gelap yang gravitasinya ikut membentuk galaksi dan struktur kosmik. Keduanya mendominasi alam semesta: sekitar 68 persen berupa energi gelap dan 27 persen materi gelap, sementara materi tampak yang membentuk bintang, planet, gas, debu, Bumi, bahkan tubuh kita, hanya menyusun sekitar lima persen isi alam semesta. Roman tidak memotret energi gelap atau materi gelap secara langsung, tetapi membaca jejak yang mereka tinggalkan.
Mata Roman tidak hanya diarahkan ke alam semesta jauh. Teleskop ini juga akan berulang kali mengamati daerah padat bintang ke arah pusat Bimasakti untuk mencari planet dengan memanfaatkan pelensaan mikro gravitasi. Ketika bintang atau planet melintas di antara arah pandang kita dan sebuah bintang jauh, gravitasinya bertindak sebagai kaca pembesar yang membelokkan dan meningkatkan kecerlangan cahaya bintang latar tersebut. Perubahan kecerlangan sesaat itu mengungkap keberadaan objek yang menjadi lensa, bahkan jika objek itu sendiri terlalu redup untuk dilihat. Roman akan mengamati ratusan juta bintang di arah pusat Bimasakti dengan pengamatan berulang tiap 12 menit pada area langit yang sama, untuk menemukan planet yang berada jauh dari bintang induknya serta planet pengembara yang tidak mengorbit bintang mana pun.
Nama yang dibawa teleskop ini pun bukan sekadar penghormatan. Nancy Grace Roman lahir pada 16 Mei 1925 dan pada usia sekitar 11 tahun sudah membentuk klub astronomi bersama teman-temannya. Ia meraih gelar doktor astronomi dan bergabung dengan NASA pada awal 1959, hanya beberapa bulan setelah badan antariksa itu berdiri. Ia menjadi Kepala Program Astronomi pertama NASA sekaligus perempuan pertama yang menduduki posisi eksekutif di lembaga tersebut, pada masa ketika perempuan masih sering dianggap tidak cocok menjadi ilmuwan. Ia mempertemukan kebutuhan astronom dengan kemampuan para insinyur, mencari pendanaan, dan menjadi salah satu tokoh penting yang mendorong gagasan teleskop besar di luar atmosfer Bumi hingga akhirnya terwujud saat Teleskop Antariksa Hubble dibangun dan diluncurkan. Peran itu membuatnya dikenal sebagai Mother of Hubble atau Ibunya Teleskop Hubble.
Ada pula kebetulan sejarah yang menarik. Pada tahun yang sama ketika ia bergabung dengan NASA, Nancy Roman menerbitkan tulisan berjudul Planets of Other Suns, yang membayangkan bahwa teleskop di antariksa suatu hari dapat membantu melihat planet di sekitar bintang lain jika cahaya bintangnya dapat dihalau. Lebih dari enam dekade kemudian, teleskop yang membawa namanya justru membawa instrumen koronagraf untuk mendemonstrasikan ide tersebut. Koronagraf dirancang untuk meredupkan cahaya bintang sehingga cahaya yang dipantulkan planet di dekatnya dapat terlihat, ibarat mencari kunang-kunang yang berada persis di samping lampu sorot dari jarak sangat jauh. Roman belum akan memotret Bumi kedua; targetnya adalah planet raksasa mirip Jupiter dan piringan debu di sekitar bintang, tetapi teknologi yang diuji Roman menjadi salah satu langkah menuju observatorium masa depan yang suatu hari mungkin mampu memisahkan cahaya planet seukuran Bumi dari cahaya bintang induknya.
Roman juga akan menjadi mesin data yang luar biasa. Teleskop ini akan menghasilkan sekitar 1,4 terabita data setiap hari, laju data tertinggi sejauh ini untuk sebuah misi astrofisika NASA, dan semua data ilmiahnya tidak memiliki masa eksklusif: setelah diproses, data dapat digunakan komunitas astronomi tanpa harus menunggu masa kepemilikan tim pengamat berakhir. Jumlah data sebesar itu tidak mungkin diperiksa satu per satu hanya oleh manusia, sehingga algoritma, pembelajaran mesin, akal imitasi, serta ilmuwan warga akan ikut membantu memilah sumber-sumber menarik, sementara keputusan tentang apa yang aneh, apa yang penting, dan pertanyaan apa yang perlu diajukan tetap menjadi bagian dari kerja manusia. Roman tidak bekerja sendirian: ia dapat menemukan objek menarik dari surveinya, lalu Webb menelitinya lebih dalam, Hubble menambahkan pengamatan dalam panjang gelombang yang berbeda, dan Euclid milik ESA serta Vera C. Rubin Observatory dari Bumi memberi pandangan lain terhadap wilayah dan objek yang sama. NASA memperkirakan rilis citra pertama teleskop ini dapat dilihat pada awal 2027. Nancy Grace Roman sendiri tidak sempat melihat hari ketika teleskop yang membawa namanya meninggalkan Bumi, karena ia meninggal pada 2018, tetapi warisan gagasannya kini mengangkasa.
Apa poin penting dari berita ini?
- Teleskop Antariksa Nancy Grace Roman milik NASA sukses meluncur dengan roket Falcon Heavy milik SpaceX pada Minggu, 30 Agustus 2026, pukul 18.26 WIB, dari Launch Complex 39A di Kennedy Space Center, Florida.
- Sekitar setengah jam setelah lepas landas, Roman berpisah dari roket dan memulai perjalanannya sendiri menuju kawasan titik Lagrange kedua Matahari-Bumi, yang berjarak sekitar 1,5 juta kilometer.
- Roman memiliki cermin utama berdiameter 2,4 meter, sama dengan Hubble, dan kamera 300 megapiksel dengan medan pandang 100 kali lebih luas dari Hubble.
- Selama lima tahun, Roman akan memetakan miliaran galaksi dan mengukur bagaimana materi tersebar di alam semesta.
- Energi gelap dan materi gelap mendominasi alam semesta, sekitar 68 persen berupa energi gelap dan 27 persen materi gelap, sementara materi tampak hanya menyusun sekitar lima persen isi alam semesta.
- Roman akan menghasilkan sekitar 1,4 terabita data setiap hari, dan NASA memperkirakan rilis citra pertama teleskop ini dapat dilihat pada awal 2027.


