Sebanyak 81,5 persen pemuda Indonesia mengaku bangga menjadi warga negara Indonesia (WNI). Temuan itu disampaikan Kepala Riset Lembaga Survei KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, dalam hasil survei terbaru lembaganya. Namun, di balik angka kebanggaan tersebut, ada temuan lain yang menarik: sebanyak 75,2 persen di antara mereka menyatakan ingin bekerja di luar negeri.
Dua angka itu berdampingan dan sama-sama penting untuk dibaca. Di satu sisi, mayoritas pemuda menyatakan kebanggaan terhadap identitas kewarganegaraannya. Di sisi lain, tiga perempat dari mereka juga terbuka pada peluang bekerja di luar negeri. Kebanggaan terhadap tanah air ternyata tidak serta-merta menutup keinginan untuk mencari pengalaman dan penghidupan di tempat lain.
Survei ini dirilis pada akhir Oktober, tidak lama setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Momentum tersebut membuat temuan survei terasa relevan, karena Sumpah Pemuda sendiri merupakan tonggak kesadaran kebangsaan generasi muda Indonesia. Pertanyaan tentang seberapa bangga pemuda terhadap Indonesia menjadi pertanyaan yang wajar diajukan pada momen seperti itu.
Dalam survei tentang nasionalisme dan kebanggaan warga negara, jawaban responden biasanya mencerminkan banyak hal sekaligus: rasa memiliki terhadap tanah air, bahasa, budaya, serta harapan terhadap masa depan bangsa. Kebanggaan tidak selalu berarti puas terhadap semua keadaan. Seseorang bisa bangga menjadi bagian dari suatu bangsa, sekaligus berharap ada perbaikan di berbagai bidang kehidupan.
Keinginan untuk bekerja di luar negeri pun tidak bisa dibaca secara sempit sebagai keinginan untuk meninggalkan Indonesia. Bagi banyak anak muda, bekerja di luar negeri dapat berarti mencari penghasilan yang lebih baik, menambah pengalaman internasional, meningkatkan keterampilan, atau membuka jaringan yang lebih luas. Pengalaman semacam itu, bila dikelola dengan baik, juga dapat menjadi modal ketika mereka kembali dan berkarya di tanah air.
Temuan survei KedaiKOPI ini menjadi bahan refleksi bagi berbagai pihak, terutama pembuat kebijakan. Tantangannya adalah bagaimana mengubah kebanggaan menjadi daya tahan: menciptakan lapangan kerja yang layak, upah yang kompetitif, serta ruang pengembangan diri di dalam negeri, sehingga anak muda tidak merasa harus pergi jauh untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Di sisi lain, keterbukaan anak muda terhadap dunia global juga merupakan aset. Generasi yang percaya diri dengan identitasnya, sekaligus mampu bersaing di panggung internasional, adalah generasi yang dapat membawa nama Indonesia lebih jauh. Kuncinya adalah memastikan bahwa mobilitas global tersebut berjalan seiring dengan kecintaan terhadap tanah air, bukan menggantikannya.
Pada akhirnya, angka 81,5 persen dan 75,2 persen itu bercerita tentang generasi muda yang kompleks: bangga menjadi Indonesia, tetapi juga realistis soal peluang. Tugas bersama adalah menjaga kebanggaan itu tetap menyala, sambil memperluas kesempatan di dalam negeri agar anak muda tidak hanya bangga menjadi WNI, tetapi juga betah berkarya di negerinya sendiri.
Apa poin penting dari berita ini?
- Kepala Riset Lembaga Survei KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, menyampaikan bahwa 81,5 persen pemuda Indonesia mengaku bangga menjadi warga negara Indonesia.
- Sebanyak 75,2 persen di antara mereka menyatakan ingin bekerja di luar negeri.
- Survei ini dirilis pada akhir Oktober, tidak lama setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
- Kebanggaan terhadap identitas kewarganegaraan tidak serta-merta menutup keinginan untuk mencari pengalaman dan penghidupan di tempat lain.
- Keinginan bekerja di luar negeri dapat berarti mencari penghasilan yang lebih baik, menambah pengalaman internasional, dan meningkatkan keterampilan.
- Temuan ini menjadi bahan refleksi tentang pentingnya menciptakan lapangan kerja yang layak dan ruang pengembangan diri di dalam negeri.


