Ketika dua orang saling tertarik, biasanya ada beberapa tahap yang dilewati sebelum hubungan mereka resmi disebut pacaran, mulai dari perkenalan, pendekatan, hingga momen salah satu menyatakan perasaan. Belakangan, proses pendekatan seperti itu tidak lagi selalu terjadi, dan pola hubungan tanpa status yang dikenal sebagai situationship semakin banyak dipilih anak muda.
Dua orang bisa dekat, rutin bertukar kabar, pergi bersama, bahkan saling menunjukkan perhatian seperti pasangan, tanpa pernah benar-benar membicarakan status hubungan. Hubungan yang berada di antara pertemanan dan pacaran ini memungkinkan dua orang menikmati kedekatan emosional maupun fisik tanpa harus menyematkan label sebagai pasangan.
Mawar, 21 tahun, bukan nama sebenarnya, misalnya, sudah menjalani hubungan tanpa status selama kurang lebih delapan bulan. Perempuan yang baru lulus kuliah ini menilai hubungan tanpa status memberinya ruang untuk menikmati kedekatan tanpa merasa harus memenuhi tuntutan seperti dalam hubungan pacaran.
“Ya udah saja sih, kayak enggak terlalu banyak tuntutan. Kan enggak ada tanggung jawab juga,” ujarnya. Saat ditanya alasan memilih hubungan tersebut, Mawar mengaku belum ingin menjalani hubungan yang terlalu serius, apalagi memikirkan pernikahan, meski ia dan orang yang dekat dengannya tetap berusaha menjaga satu sama lain.
Ia bahkan pernah membicarakan status hubungan tersebut dengan orang yang sedang dekat dengannya, tetapi sejauh ini keduanya merasa sama-sama nyaman dengan keadaan itu, seperti hubungan pacarannya sebelumnya yang juga berjalan tanpa kejelasan yang dibicarakan tuntas.
Di sisi lain, hubungan tanpa status tidak selalu ringan dampaknya. Sebuah penelitian bertajuk All the Feels, None of the Labels, yang mewawancarai orang dewasa muda berusia 19 hingga 25 tahun, mengidentifikasi lima tema dalam pengalaman menjalani situationship. Kelimanya adalah ketidakjelasan status dan batas hubungan, ketimpangan keterlibatan emosional, peran aplikasi kencan dalam mempertahankan banyak pilihan, keinginan untuk tetap mandiri, serta dampak psikologis dari hubungan yang tidak jelas.
Sejumlah partisipan mengaku mengalami patah hati yang berat setelah hubungan berakhir, tetapi merasa kesedihannya tidak sepenuhnya dianggap sah karena hubungan tersebut tidak pernah resmi disebut pacaran. Sebagian partisipan bahkan mengalami kesulitan membangun kembali kepercayaan setelah pengalaman tersebut, karena seseorang tetap bisa merasa kehilangan meskipun hubungan yang dijalani tidak pernah memiliki status resmi.
Psikolog Kei menilai ada orang yang sengaja mempertahankan hubungan tanpa status sebagai cara melindungi diri dari kemungkinan terluka, karena mereka ingin tetap memiliki kedekatan tetapi tidak ingin terlalu jauh melibatkan perasaan. Namun strategi tersebut tidak selalu berhasil, sebab kedekatan yang berlangsung intens tetap bisa membangun keterikatan emosional.
“Kalau situationship, tapi sering ketemu dan interaksinya intens, kayak misalnya chatting-annya banyak, terus sering call, ketemunya juga sering, itu secara biologis pasti tercipta yang namanya attachment,” jelasnya. Menurut Kei, label hubungan bukan satu-satunya hal yang menentukan munculnya perasaan, karena intensitas interaksi, kebiasaan bertemu, komunikasi sepanjang hari, hingga kontak fisik dapat membuat seseorang semakin terikat.
Situasi ini bisa menjadi rumit ketika kedua orang memiliki harapan berbeda, misalnya salah satunya menikmati hubungan kasual sementara yang lain mulai menginginkan hubungan yang lebih jelas. Dalam sesi konsultasi, Kei kerap menemui kondisi seperti itu, di mana kedua pihak pada awalnya sepakat tidak berpacaran, tetapi seiring intensitas pertemuan dan komunikasi, salah satu pihak mulai menginginkan perhatian lebih.
Orang yang mulai merasa tidak nyaman dalam situationship belum tentu langsung memilih pergi. Ada yang tetap bertahan karena rutinitas mengobrol setiap hari dan bertemu beberapa kali dalam seminggu terasa menyenangkan, ada yang takut kehilangan seseorang yang dianggap sulit ditemukan kembali, dan ada pula harapan yang telanjur terbentuk tentang masa depan bersama, termasuk kemungkinan memperkenalkan orang tersebut kepada keluarga.
Bagi orang yang nyaman menjalani hubungan tanpa status, kondisi tersebut mungkin bukan masalah. Namun situasinya berbeda jika salah satu pihak mulai menginginkan komitmen dan merasa tidak mendapat kepastian. Kei menyarankan agar pembicaraan mengenai status tidak ditunda terlalu lama, terutama jika kedua orang sudah cukup mengenal satu sama lain.
“Kalau udah satu bulan terus enggak ada kejelasan, udah langsung ditanya aja. Baik cewek maupun cowok,” jawabnya. Ia menyarankan agar seseorang menyampaikan keinginannya secara terbuka, misalnya mengatakan sudah merasa nyaman dan ingin membawa hubungan ke arah yang lebih jelas, dan jika pihak lain tidak menginginkannya, tidak perlu melanjutkan hubungan itu.
Apa poin penting dari berita ini?
- Situationship atau hubungan tanpa status semakin banyak dipilih anak muda, di mana dua orang bisa dekat, rutin bertukar kabar, dan pergi bersama seperti pasangan tanpa pernah membicarakan status hubungan.
- Mawar, 21 tahun, yang menjalani hubungan tanpa status selama kurang lebih delapan bulan, menilai pola itu memberinya ruang menikmati kedekatan tanpa tuntutan seperti dalam hubungan pacaran, karena ia belum ingin menjalani hubungan yang terlalu serius.
- Penelitian All the Feels, None of the Labels terhadap orang dewasa muda berusia 19 hingga 25 tahun mengidentifikasi lima tema situationship, yakni ketidakjelasan status dan batas, ketimpangan keterlibatan emosional, peran aplikasi kencan, keinginan mandiri, dan dampak psikologis dari hubungan yang tidak jelas.
- Sejumlah partisipan mengalami patah hati berat setelah hubungan berakhir tetapi merasa kesedihannya tidak dianggap sah karena hubungan itu tidak pernah resmi, dan sebagian mengalami kesulitan membangun kembali kepercayaan.
- Psikolog Kei menjelaskan interaksi yang intens tetap bisa menumbuhkan keterikatan emosional meskipun tanpa label pacaran, dan menyarankan pembicaraan soal status tidak ditunda terlalu lama, terutama bila sudah satu bulan tanpa kejelasan, dengan menyampaikan keinginan secara terbuka.


