Perusahaan raksasa teknologi kecerdasan buatan OpenAI, Google, Microsoft, dan Anthropic berkomitmen menyediakan mekanisme bagi media dan pengelola situs untuk menolak konten mereka digunakan sebagai bahan pelatihan kecerdasan buatan (AI). Komitmen itu diumumkan pada 30 Oktober 2026, di tengah kritik dan gugatan penerbit berita terhadap praktik pengumpulan data untuk pelatihan model AI.
Menurut laporan CNN yang mengutip AFP, perusahaan-perusahaan tersebut menyiapkan instruksi standar agar pengelola situs dapat menolak konten mereka dipakai untuk pelatihan model mendatang. Mekanisme baru ini akan diterapkan secara bertahap, dan menjadi jawaban atas desakan industri media yang selama ini merasa karyanya dipakai tanpa izin dan tanpa kompensasi yang adil.
Desakan itu menguat setelah sejumlah penerbit menggugat perusahaan AI dan mengkritik praktik pengambilan konten secara massal. Bagi penerbit, karya jurnalistik yang dipakai melatih model AI seharusnya dibayar dengan adil, karena model-model tersebut kemudian mampu menghasilkan jawaban dan ringkasan yang bersaing langsung dengan produk berita itu sendiri.
Konteks yang sama juga menyeret Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram. Syarat bisnis baru Meta yang awalnya dijadwalkan berlaku 30 Oktober menyebut Meta dapat menggunakan konten apa pun dari situs web yang terkait dengan akun bisnis untuk mengembangkan, meneliti, dan melatih produk Meta. Ketentuan itulah yang memicu reaksi keras dari industri penerbitan.
Setidaknya tiga organisasi media bersuara sebelum revisi dilakukan. Dewan Penerbit Eropa berencana meminta Komisi Eropa memeriksa aturan tersebut, asosiasi media Inggris menyebutnya perampasan, dan News/Media Alliance di Amerika Serikat menilainya keterlaluan dan kemungkinan melanggar hukum. Di Indonesia, tajuk Kompas pada 16 Oktober menegaskan karya jurnalistik yang dipakai melatih AI harus dibayar dengan adil.
Setelah gelombang protes, Meta merevisi aturan itu dengan mencoret kata melatih dan membatasi pemakaiannya untuk produk iklan dan bisnis, bukan lagi semua produk Meta. Meta juga menunda penerapan syarat bisnis baru tersebut hingga 20 November untuk memberi waktu lebih bagi penjelasan kepada mitra dan pemangku kepentingan.
Namun sejumlah pakar hukum menilai revisi itu belum cukup menjawab kekhawatiran penerbit. James Grimmelmann, profesor hukum digital dan informasi di Cornell Law School, mengatakan perubahan tersebut tidak membatasi bahasa yang tetap memungkinkan Meta mengambil konten dari seluruh situs. Matt Topic, pengacara media dan kekayaan intelektual di Loevy and Loevy, menilai istilah produk bisnis tidak didefinisikan secara jelas dan kata mengembangkan cukup luas sehingga bisa mencakup aktivitas pelatihan model.
Meta membantah syarat itu dimaksudkan untuk mengambil konten berita dan menegaskan peran berkas robots.txt, yakni instruksi yang dipakai pengelola situs untuk menyatakan bagian mana yang boleh dijelajahi perayap. Namun Benjamin Sobel dari Universitas Wisconsin mengingatkan bahwa robots.txt hanya menyatakan keinginan pemilik situs dan pematuhannya bersifat sukarela. Karena itu, perdebatan kini bergeser ke cara perusahaan teknologi mendefinisikan istilah-istilah kunci dalam kontrak bisnisnya, termasuk sejauh mana konten yang diambil dari situs mitra bisa dimanfaatkan untuk pengembangan produk.
Apa poin penting dari berita ini?
- OpenAI, Google, Microsoft, dan Anthropic berkomitmen menyediakan mekanisme tolak pelatihan konten bagi media dan pengelola situs.
- Komitmen itu diumumkan pada 30 Oktober 2026, di tengah kritik dan gugatan penerbit berita.
- Meta sebelumnya memicu protes karena syarat bisnisnya menyebut konten situs boleh dipakai melatih produk Meta.
- Meta mencoret kata melatih dan menunda syarat baru hingga 20 November, tetapi pakar hukum menilai revisi itu belum cukup.
- Perdebatan bergeser ke definisi istilah produk bisnis dan sejauh mana robots.txt benar-benar melindungi pemilik konten.


