Sunday, 1 November 2026
Kesehatan

Menjaga Indonesia Bebas Polio: KLB Tipe 2 Berakhir, Imunisasi dan Surveilans Tak Boleh Kendur

Tenaga kesehatan memberikan vaksin polio tetes kepada bayi dalam kegiatan imunisasi

Setiap 24 Oktober, Hari Polio Sedunia mengingatkan bahwa kemenangan dalam kesehatan masyarakat harus terus dirawat. Pesan itu disampaikan dalam tulisan yang dimuat kantor berita ANTARA pada Sabtu, 24 Oktober 2026, bahwa perlindungan anak bergantung pada pekerjaan sehari-hari: imunisasi lengkap, penemuan kasus, dan layanan yang menjangkau keluarga yang paling sulit diakses.

Bagi Indonesia, pesan itu nyata. Pada 19 November 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kejadian luar biasa (KLB) polio tipe 2 di Indonesia berakhir. Keberhasilan tersebut layak diapresiasi sekaligus diteruskan menjadi pemerataan perlindungan.

Wabah di Aceh yang dilaporkan pada November 2022 berkaitan dengan poliovirus turunan vaksin tipe 2 (cVDPV2). Responsnya berkembang dari imunisasi tambahan di wilayah terdampak hingga Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada 2024.

Pengumuman WHO pada November 2025 menyebut hampir 60 juta dosis tambahan diberikan selama respons wabah. Angka itu menunjukkan jumlah dosis, bukan jumlah anak yang berbeda.

Penulis tulisan itu menyebut cakupan dosis kedua vaksin polio inaktif (IPV) naik dari 63 persen pada 2023 menjadi 73 persen pada 2024, atau naik 10 poin persentase. Kenaikan itu menjadi ukuran bahwa perlindungan anak semakin merata, meski belum semua anak terjangkau.

Penulis juga menekankan bahwa penutupan wabah, sertifikasi bebas poliovirus liar, dan eradikasi global harus dibedakan. Berakhirnya KLB bukan berarti pekerjaan selesai, karena virus masih beredar di sejumlah negara dan risiko masuknya kembali polio tetap perlu diantisipasi.

Untuk menjaga capaian itu, penulis mengusulkan perlindungan anggaran imunisasi rutin dan surveilans setelah kampanye berakhir. Puskesmas harus didukung menyediakan imunisasi kejar, sementara komunikasi bersama tokoh masyarakat menjawab kekhawatiran keluarga tanpa mempermalukan mereka.

Kewaspadaan terhadap lumpuh layuh akut harus dipertahankan melalui pelaporan tepat waktu, spesimen yang memadai, pemeriksaan laboratorium, dan tindak lanjut. Layanan rehabilitasi bagi penyintas juga perlu masuk dalam perencanaan program.

Sejarah vaksin polio menjadi pengingat panjangnya perjuangan ini. Vaksin inaktif Jonas Salk mulai digunakan pada 1955, dan vaksin oral Albert Sabin pada awal 1960-an mengubah perjalanan penyakit ini. Di Jerman, poliovirus liar tipe 1 ditemukan dalam sampel air limbah Hamburg yang dikumpulkan pada Oktober 2025, sementara kawasan Afrika WHO disertifikasi bebas poliovirus liar indigenous pada 2020.

Ukurannya bukan hanya angka nasional, melainkan kepastian bahwa setiap anak memperoleh imunisasi dan setiap penyintas mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Selama virus masih beredar di dunia, menjaga cakupan imunisasi dan memastikan anak mendapatkan vaksin sesuai jadwal menjadi bagian penting dalam mempertahankan perlindungan masyarakat.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Hari Polio Sedunia setiap 24 Oktober mengingatkan bahwa capaian kesehatan masyarakat harus terus dirawat lewat imunisasi lengkap, penemuan kasus, dan layanan yang menjangkau semua keluarga.
  • Pada 19 November 2025, WHO menyatakan KLB polio tipe 2 di Indonesia berakhir; wabah di Aceh yang dilaporkan November 2022 berkaitan dengan poliovirus turunan vaksin tipe 2.
  • Respons wabah berkembang dari imunisasi tambahan di wilayah terdampak hingga Pekan Imunisasi Nasional pada 2024, dengan hampir 60 juta dosis tambahan diberikan.
  • Cakupan dosis kedua vaksin polio inaktif naik dari 63 persen pada 2023 menjadi 73 persen pada 2024.
  • Untuk menjaga capaian, diusulkan perlindungan anggaran imunisasi rutin dan surveilans, dukungan puskesmas untuk imunisasi kejar, kewaspadaan lumpuh layuh akut, dan layanan rehabilitasi bagi penyintas.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *