Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengapresiasi dukungan investor senior asal Amerika Serikat, Chapman Taylor, terhadap peluang Indonesia mempertahankan status pasar negara berkembang atau Emerging Market dalam indeks MSCI. Apresiasi itu disampaikan Jeffrey dalam Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Jeffrey menilai peluang Indonesia bertahan di kategori Emerging Market MSCI berada di atas 50 persen, bahkan berpotensi melampaui perkiraan yang sebelumnya disampaikan Taylor. Ia berharap berbagai pembenahan yang dilakukan pemerintah dan regulator di pasar modal Indonesia mendapat apresiasi yang pantas dari investor global.
Kita berharap secara objektif maupun subjektif apa yang kita lakukan akan diapresiasi oleh investor, sehingga apa yang disampaikan oleh Chapman Taylor bahwa peluang Indonesia tetap di Emerging Market itu ada di atas 50 persen, kata Jeffrey dalam pertemuan dengan media tersebut. Ia menambahkan, dengan dukungan media, persentase itu mudah-mudahan bisa lebih tinggi lagi.
Siapa Chapman Taylor? Ia merupakan investor senior dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di industri investasi global, khususnya pasar negara berkembang Asia. Taylor pernah menjabat sebagai Portfolio Manager dan Research Director di Capital Group. Saat ini ia menjadi anggota Dewan Penasihat Danantara dan ditunjuk sebagai perwakilan investor asing dalam Komite High Shareholding Concentration (HSC) BEI.
Sebelumnya, Taylor memperkirakan peluang Indonesia mempertahankan status Emerging Market dalam indeks MSCI berada di atas 50 persen. Optimisme tersebut meningkat dibandingkan penilaiannya pada Juli 2026. Menurut Taylor, terjadi pergeseran sentimen yang sangat positif dalam beberapa bulan terakhir.
Apa yang membuat Taylor lebih optimistis? Ia menilai koordinasi pemerintah dan regulator Indonesia semakin solid, komunikasi dengan MSCI kembali aktif, serta keseriusan dalam menindak praktik manipulasi pasar semakin terlihat. Pembentukan Komite HSC, penguatan sistem pengawasan Nasdaq, dan peningkatan pengawasan pasar menjadi sejumlah faktor positif lainnya. Taylor juga menilai reformasi yang diusung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah berada di jalur yang tepat.
Komite HSC sendiri baru saja dirombak oleh BEI. Komite yang selama ini hanya diisi jajaran internal Self-Regulatory Organization (SRO) kini diperluas dengan melibatkan tokoh independen dari pelaku industri, akademisi, hingga perwakilan investor. Langkah itu diambil untuk memperkuat tata kelola serta meningkatkan kredibilitas penentuan keluar-masuknya saham dalam pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Anggota komite yang baru antara lain Direktur Utama Mandiri Sekuritas Alex Widi, Direktur Utama UBS Sekuritas Joshua Arief Tanja, akademisi Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, serta mantan Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Komite Nasional Kebijakan Governansi. Jeffrey menjelaskan komite tersebut diharapkan mendukung peningkatan transparansi, tata kelola, dan kredibilitas hasil kerja.
Menariknya, Taylor juga melihat sisi peluang apabila Indonesia benar-benar mengalami penurunan status. Menurutnya, aksi jual paksa dari pengelola dana pasif dapat dimanfaatkan investor aktif untuk memborong saham berfundamental solid, karena valuasi saham domestik dinilai sudah sangat murah dan berpotensi meningkatkan likuiditas di pasar dalam negeri.
Bagi pasar modal Indonesia, status Emerging Market MSCI bukan sekadar label. Status itu memengaruhi aliran dana investor global, terutama dana pasif yang mengikuti indeks. Karena itu, pernyataan dukungan dari investor sekelas Taylor dipandang BEI sebagai sinyal kepercayaan yang penting di tengah proses konsultasi MSCI mengenai klasifikasi pasar saham Indonesia.
Apa poin penting dari berita ini?
- Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengapresiasi dukungan investor senior Chapman Taylor terhadap peluang Indonesia tetap di Emerging Market MSCI.
- Jeffrey menilai peluang itu berada di atas 50 persen, bahkan berpotensi lebih tinggi dari perkiraan Taylor.
- Taylor menilai koordinasi pemerintah dan regulator semakin solid, komunikasi dengan MSCI kembali aktif, dan penindakan manipulasi pasar semakin serius.
- Pembentukan Komite High Shareholding Concentration dan penguatan pengawasan pasar menjadi faktor positif bagi Indonesia.
- Taylor juga melihat aksi jual investor pasif sebagai peluang bagi investor aktif karena valuasi saham domestik dinilai sudah sangat murah.


