Wahana antariksa Hera milik Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk pertama kalinya berhasil memisahkan citra dua asteroid targetnya, Didymos dan Dimorphos, dalam satu pengamatan. Citra itu diambil dengan kamera Asteroid Framing Camera pada malam 18 Oktober 2026, dari jarak 1.280 kilometer dari pasangan asteroid tersebut, yang saat itu berada sekitar 197 juta kilometer dari Bumi. Keberhasilan ini dilaporkan pada 27 Oktober 2026 dan menjadi tonggak penting misi pertahanan planet Hera.
Sebelum citra ini diperoleh, Hera masih melihat sistem Didymos sebagai satu titik cahaya saja. Ilmuwan misi Michael Kueppers menjelaskan bahwa dalam citra baru tersebut, asteroid yang lebih kecil, Dimorphos, untuk pertama kalinya tampak jelas terpisah dari induknya, meskipun baru sebesar sekitar satu piksel. Citra pertama itu diraih setelah Hera sukses melakukan manuver pengereman pada awal Oktober 2026, yakni dua kali pembakaran pendorong dalam selang seminggu yang memperlambat wahana hingga hanya 20 meter per detik relatif terhadap kedua asteroid targetnya, sehingga Hera dapat mendekat secara bertahap dan terkendali.
Dimorphos berdiameter 151 meter, kira-kira sebesar Piramida Agung Giza, sedangkan Didymos berdiameter 780 meter, sedikit lebih kecil daripada gedung Burj Khalifa di Dubai. Keduanya mengorbit dengan jarak rata-rata 1,15 kilometer, dan Dimorphos mengelilingi induknya dengan kecepatan sekitar 18 sentimeter per detik. Manajer misi Ian Carnelli mengatakan bahwa untuk pertama kalinya tim melihat sistem asteroid ganda itu melalui mata Hera sendiri, dan citra akan semakin tajam seiring wahana mendekat, dengan citra detail pertama Dimorphos dijadwalkan terungkap pada 25 November 2026.
Misi Hera merupakan kelanjutan dari eksperimen pertahanan planet berskala besar yang dilakukan NASA pada 26 September 2022. Kala itu, wahana DART menabrak Dimorphos dengan kecepatan 6,1 kilometer per detik, menyemburkan puing sejauh 10.000 kilometer dan memperlambat orbit asteroid tersebut sekitar 33 menit. Dimorphos pun menjadi objek pertama di Tata Surya yang orbitnya terbukti bergeser akibat tindakan manusia. Namun, sejumlah pertanyaan kunci masih belum terjawab: apakah tabrakan itu meninggalkan kawah atau justru mengubah bentuk asteroid sepenuhnya, serta berapa tepatnya massa, struktur, dan komposisi Dimorphos yang menjelaskan mengapa defleksinya jauh lebih besar daripada prediksi simulasi.
Di sinilah peran Hera menjadi penting. Selama beberapa bulan ke depan, wahana itu akan melakukan investigasi mendetail di lokasi tabrakan Dimorphos dengan berbagai instrumen, serta mengerahkan dua CubeSat seukuran kotak sepatu untuk survei dari jarak yang lebih dekat, hingga tahap pendaratan. Data yang dikumpulkan akan mengubah metode dampak kinetik, yakni menabrak asteroid untuk membelokkan jalurnya, dari sebuah eksperimen yang berhasil menjadi teknik pertahanan planet yang benar-benar dipahami. Dengan begitu, bila suatu hari asteroid berbahaya terdeteksi mengarah ke Bumi, para ilmuwan tidak hanya tahu bahwa cara itu bisa bekerja, tetapi juga seberapa besar efeknya dan mengapa.
Apa poin penting dari berita ini?
- Wahana Hera milik ESA untuk pertama kalinya memisahkan citra asteroid Didymos dan Dimorphos dalam satu pengamatan.
- Citra itu diambil pada 18 Oktober 2026 dari jarak 1.280 kilometer, saat pasangan asteroid berada sekitar 197 juta kilometer dari Bumi.
- Dimorphos berdiameter 151 meter, sedangkan Didymos berdiameter 780 meter, dan keduanya mengorbit dengan jarak rata-rata 1,15 kilometer.
- Hera menindaklanjuti misi DART NASA yang pada 2022 menabrak Dimorphos dan memperlambat orbitnya sekitar 33 menit.
- Investigasi Hera akan menjawab apakah tabrakan itu meninggalkan kawah dan berapa massa serta struktur Dimorphos yang sebenarnya.


