Saturday, 31 October 2026
Lingkungan

Enam Tahun Menanti di Hutan, Fotografer Abadikan Keseharian Macan Tutul Jawa

Seekor macan tutul jawa berjalan di lantai hutan pada malam hari, tertangkap kamera pengintai

Enam tahun Ignatius Dwi Wardhana menunggu kesempatan melihat macan tutul jawa di habitat alaminya. Berulang kali masuk hutan, keinginannya baru terwujud pada 2019. Bagi fotografer satwa liar yang akrab disapa Ignaz itu, perjumpaan tersebut membuka rasa ingin tahu yang lebih besar tentang kehidupan Panthera pardus melas, kucing besar terakhir yang tersisa di Pulau Jawa.

Macan tutul jawa adalah satwa endemik Pulau Jawa dan satu-satunya kucing besar yang masih bertahan di pulau ini setelah harimau jawa dinyatakan punah, dengan penampakan terakhir di Taman Nasional Meru Betiri pada 1976. Satwa ini menjadi satwa identitas Provinsi Jawa Barat dan dilindungi undang-undang, serta tercatat dalam Daftar Merah IUCN dan CITES Appendix I yang membatasi ketat perdagangannya.

Perjalanan Ignaz memotret macan tutul jawa bukan sekadar urusan teknis fotografi. Satwa ini sangat pemalu, aktif di malam hari, dan hidup di hutan yang semakin sempit. Karena itu, setiap perjumpaan di alam liar menjadi momen langka yang menuntut kesabaran, pemahaman perilaku satwa, dan penghormatan terhadap habitatnya.

Upaya memahami populasi macan tutul jawa kini ditopang oleh survei berskala besar. Java Wide Leopard Survey, yang diluncurkan pada awal 2024, menjadi survei pertama yang dilakukan secara menyeluruh di seluruh Pulau Jawa. Survei ini menggunakan sekitar 600 kamera pengintai yang dipasang di 1.160 stasiun pengamatan pada 21 bentang alam, mencakup 10 taman nasional, 24 kawasan suaka alam, dan 55 kawasan hutan lainnya.

Survei tersebut dikerjakan Kementerian Kehutanan bersama Yayasan Sintas serta puluhan mitra lokal, pemerintah daerah, perguruan tinggi, mitra swasta, dan unit pelaksana teknis. Berdasarkan analisis Yayasan Sintas, terdapat 29 lanskap yang masih layak sebagai habitat macan tutul jawa, mencakup kurang dari 9 persen Pulau Jawa. Dari temuan sementara, populasi macan tutul jawa diperkirakan berada di kisaran 120 hingga 570 individu, dengan estimasi paling rasional sekitar 320 individu dewasa.

Angka itu menggambarkan betapa kecilnya populasi predator puncak terakhir Jawa. Ancaman terbesarnya adalah fragmentasi habitat akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan, permukiman, dan hutan produksi, serta konflik dengan manusia dan perdagangan ilegal. Sebelum tahun 2000, Pulau Jawa telah kehilangan sebagian besar hutan alamnya, dan penyusutan hutan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

Kisah Ignaz dan kerja survei lapangan menunjukkan bahwa konservasi macan tutul jawa tidak cukup hanya dengan melarang perburuan. Perlindungan dan pemulihan habitat, pengelolaan konflik dengan masyarakat di sekitar hutan, serta penyediaan data populasi yang akurat menjadi kunci agar satwa ini tidak menyusul harimau jawa menuju kepunahan.

Bagi masyarakat, menjaga macan tutul jawa berarti menjaga kesehatan hutan yang menjadi sumber air dan udara bersih. Sebagaimana diyakini sebagian masyarakat Jawa secara tradisional, macan tutul adalah penjaga hutan, dan hutan yang sehat pada akhirnya menentukan kualitas hidup manusia yang tinggal di sekitarnya.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Enam tahun Ignatius Dwi Wardhana menunggu kesempatan melihat macan tutul jawa di habitat alaminya, dan keinginannya baru terwujud pada 2019.
  • Macan tutul jawa adalah satwa endemik Pulau Jawa dan satu-satunya kucing besar yang masih bertahan di pulau ini setelah harimau jawa punah, dengan penampakan terakhir di Taman Nasional Meru Betiri pada 1976.
  • Java Wide Leopard Survey yang diluncurkan pada awal 2024 menjadi survei pertama yang dilakukan secara menyeluruh di Pulau Jawa, menggunakan sekitar 600 kamera pengintai di 1.160 stasiun pengamatan pada 21 bentang alam.
  • Berdasarkan analisis Yayasan Sintas, terdapat 29 lanskap yang masih layak sebagai habitat macan tutul jawa, mencakup kurang dari 9 persen Pulau Jawa.
  • Dari temuan sementara, populasi macan tutul jawa diperkirakan berada di kisaran 120 hingga 570 individu, dengan estimasi paling rasional sekitar 320 individu dewasa.
  • Ancaman terbesar macan tutul jawa adalah fragmentasi habitat akibat alih fungsi lahan, konflik dengan manusia, dan perdagangan ilegal, sehingga perlindungan habitat dan data populasi yang akurat menjadi kunci konservasinya.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *