JAKARTA — Penanganan lereng longsor pada tanah vulkanik tropis menjadi fokus dalam sidang terbuka Program Studi Doktor Ilmu Teknik Sipil Universitas Tarumanagara pada Jumat, 30 Oktober 2026. Dalam sidang itu, kandidat doktor Semangat Marudut Tua Debataraja mempresentasikan disertasinya mengenai mekanisme keruntuhan lereng dengan pendekatan metode kesinambungan batas dan elemen hingga.
Penelitian tersebut berangkat dari persoalan longsor berulang di ruas Jalan Provinsi Doloksanggul–Pakkat, Sumatera Utara. Ruas jalan ini menghubungkan tiga kabupaten dan memiliki peran penting bagi aktivitas masyarakat. Meski sudah beberapa kali diperbaiki, longsor di ruas tersebut terus berulang dan menimbulkan kerugian serta mengganggu aktivitas warga.
Salah satu peristiwa yang menjadi perhatian adalah longsor pada 2022 yang memutus akses jalan selama 28 hari. Peristiwa itu mendorong kajian yang lebih mendalam mengenai karakteristik tanah dan mekanisme keruntuhan lereng di kawasan tersebut, agar penanganannya tidak sekadar berulang tanpa menyelesaikan akar persoalan.
Dalam disertasinya, Semangat menggunakan pendekatan kesetimbangan batas dan elemen hingga untuk menganalisis stabilitas lereng. Analisis itu mempertimbangkan kohesi tanah, sudut geser dalam, serta sifat indeks dan sifat fisik tanah. Ia juga membandingkan metode Bishop dan Fellenius untuk memperoleh nilai faktor keamanan lereng dengan akurasi yang lebih baik.
Salah satu temuan yang disampaikan adalah bahwa pemadatan tanah dapat menjadi alternatif yang lebih efisien dibandingkan pembangunan dinding penahan, beton pracetak, atau turap yang berbiaya tinggi. Pengujian terhadap tanah vulkanik di lokasi penelitian menemukan bahwa pemadatan 90–100 persen dengan kadar air 14–23 persen berada dalam kondisi yang dinilai aman.
Semangat menegaskan bahwa temuan tersebut terbatas pada tanah yang dijadikan sampel penelitian. Karena itu, ia merekomendasikan proyek percontohan dalam skala terbatas yang disertai pemantauan dan pemeliharaan sebelum metode itu diterapkan secara lebih luas.
Ia juga menyampaikan pandangan bahwa perbaikan lereng tidak selalu harus menggunakan dinding penahan, beton pracetak, atau turap berbiaya tinggi. Pemadatan, menurutnya, patut dicoba karena dapat meningkatkan kuat geser tanah dan stabilitas lereng, selama dilakukan berdasarkan kajian teknis yang memadai.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), dalam menentukan metode penanganan lereng yang tepat dan efisien. Ruas jalan provinsi yang rawan longsor membutuhkan penanganan berbasis data tanah, bukan sekadar perbaikan permukaan yang mudah rusak kembali.
Sidang terbuka ini juga menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menjawab persoalan infrastruktur daerah. Kajian akademik mengenai tanah vulkanik tropis menjadi penting karena jenis tanah ini memiliki perilaku khusus yang memengaruhi stabilitas lereng, terutama saat musim hujan dan ketika air meresap ke dalam tanah.
Dengan pendekatan yang mengombinasikan pengujian lapangan, analisis numerik, dan rekomendasi penerapan bertahap, penelitian ini diharapkan membantu pemerintah daerah dan pusat menyusun penanganan lereng yang lebih tahan lama serta lebih hemat biaya, tanpa mengabaikan aspek keselamatan pengguna jalan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Penanganan lereng longsor pada tanah vulkanik tropis dibahas dalam sidang terbuka doktor Universitas Tarumanagara pada Jumat, 30 Oktober 2026.
- Kandidat doktor Semangat Marudut Tua Debataraja mempresentasikan disertasi tentang mekanisme keruntuhan lereng dengan pendekatan metode kesinambungan batas dan elemen hingga.
- Penelitian berangkat dari longsor berulang di ruas Jalan Provinsi Doloksanggul–Pakkat, Sumatera Utara, termasuk longsor 2022 yang memutus akses jalan selama 28 hari.
- Analisis mempertimbangkan kohesi tanah, sudut geser dalam, serta sifat indeks dan fisik tanah, dengan membandingkan metode Bishop dan Fellenius.
- Temuan penelitian menyebut pemadatan 90–100 persen dengan kadar air 14–23 persen pada tanah vulkanik di lokasi penelitian berada dalam kondisi yang dinilai aman.
- Peneliti merekomendasikan proyek percontohan skala terbatas dengan pemantauan dan pemeliharaan sebelum penerapan lebih luas.


