Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Indonesia pada Oktober 2026 tercatat 53,77 poin dan berada di zona ekspansi. Namun, pengamat menilai kenaikan itu masih bersifat jangka pendek dan belum cukup menjadi bukti adanya perbaikan struktural pada iklim usaha secara keseluruhan.
Penilaian itu disampaikan Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia. Menurut dia, IKI hanya mengukur aktivitas manufaktur, bukan keseluruhan iklim usaha, sehingga pembacaan atas angka tersebut harus dilakukan dengan hati-hati.
Kenaikan IKI pada Oktober 2026 terutama didorong oleh pesanan baru yang berkaitan dengan produksi menjelang Natal dan Tahun Baru. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah membuat produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif dibandingkan produk impor, sehingga pesanan ke industri domestik ikut meningkat.
Dua pendorong itu, menurut Yusuf, bersifat musiman dan situasional. Pesanan menjelang hari besar keagamaan akan mereda setelah musimnya lewat, sementara keuntungan dari pelemahan rupiah bisa berbalik menjadi beban apabila harga bahan baku impor ikut naik dan menekan margin produsen.
Tekanan lain yang masih membayangi industri adalah kenaikan imbal hasil surat berharga negara, pelemahan rupiah yang berkelanjutan, serta sikap investor yang semakin berhati-hati. Kondisi itu membuat dunia usaha cenderung menahan ekspansi, meskipun pesanan jangka pendek sedang meningkat.
Utilisasi industri yang masih berada di kisaran 70 persen menjadi penanda lain bahwa kapasitas produksi belum sepenuhnya terpakai. Artinya, kenaikan pesanan belum diterjemahkan menjadi pemanfaatan pabrik yang penuh, apalagi menjadi pembangunan kapasitas baru dan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Agar perbaikan ini tidak berhenti sebagai kenaikan sesaat, Yusuf menyebut sejumlah prasyarat yang perlu dijaga. Biaya input harus tetap terkendali, harga gas industri harus kompetitif, dan stabilitas nilai tukar rupiah perlu dijaga agar perencanaan produksi tidak terganggu oleh gejolak kurs.
Kepastian izin impor bahan baku, penindakan terhadap impor ilegal, serta konsistensi regulasi juga dinilai penting. Tanpa kepastian tersebut, produsen sulit menyusun rencana jangka menengah, dan pesanan yang meningkat berisiko hanya menjadi penambahan lembur produksi, bukan investasi baru.
Dengan prasyarat itu terpenuhi, pesanan yang lebih tinggi berpeluang berubah menjadi ekspansi kapasitas dan penciptaan lapangan kerja. Sebaliknya, bila prasyarat itu absen, industri bisa kembali melambat begitu musim pesanan berakhir dan tekanan biaya kembali menguat.
Bagi pembaca angka IKI, pesan utamanya jelas: zona ekspansi adalah kabar baik, tetapi bukan vonis bahwa industri sudah sepenuhnya pulih. Ujian sesungguhnya adalah apakah kenaikan ini bertahan melewati pergantian musim dan diiringi perbaikan pada faktor-faktor yang menentukan daya saing jangka panjang.
Apa poin penting dari berita ini?
- Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Indonesia pada Oktober 2026 tercatat 53,77 poin dan berada di zona ekspansi.
- Pengamat CoRE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kenaikan itu masih bersifat jangka pendek, karena IKI hanya mengukur aktivitas manufaktur, bukan keseluruhan iklim usaha.
- Kenaikan IKI didorong pesanan baru menjelang Natal dan Tahun Baru serta pelemahan rupiah yang membuat produk domestik lebih kompetitif dibanding impor.
- Tekanan yang masih membayangi adalah kenaikan imbal hasil surat berharga negara, pelemahan rupiah, investor yang berhati-hati, dan utilisasi industri yang masih sekitar 70 persen.
- Agar perbaikan bertahan, Yusuf menyebut perlunya biaya input terkendali, gas industri kompetitif, rupiah stabil, kepastian izin impor bahan baku, penindakan impor ilegal, dan regulasi yang konsisten.

