Sebelas desa wisata binaan Bakti BCA memperluas akses pasar mancanegara melalui partisipasi dalam Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026. Keikutsertaan itu menghasilkan potensi kunjungan 124 wisatawan dan potensi pendapatan desa sebesar Rp242 juta.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memboyong desa-desa wisata binaannya ke ajang internasional tersebut untuk mempertemukan pengelola desa dengan pelaku industri pariwisata global. Sebanyak 64 pelaku industri pariwisata terlibat dalam diskusi mengenai peluang kerja sama dengan desa-desa binaan itu.
Penjajakan kemitraan ini menyasar pasar perjalanan internasional di kawasan Asia, Eropa, hingga Afrika. Tujuannya bukan sekadar memperkenalkan destinasi, melainkan memperluas pemasaran paket wisata desa Indonesia melalui jaringan perjalanan internasional yang sudah mapan.
Di arena pameran, stan Desa Bakti BCA menjadi tempat pertemuan antara pengelola desa dan para pembeli potensial. Interaksi langsung semacam ini dinilai penting, karena calon mitra bisa menggali lebih dalam mengenai daya tarik tiap desa, mulai dari alam dan budaya hingga kesiapan layanan dan akomodasi.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan akses pasar menjadi satu hal penting yang perlu didorong dalam mengembangkan desa wisata binaan. Menurut dia, akses pasar yang luas dapat menjadi pintu gerbang untuk meningkatkan pertumbuhan sektor wisata di Indonesia.
Melalui partisipasi di WITF 2026 serta interaksi langsung bersama puluhan pembeli mancanegara, BCA ingin membuka peluang kerja sama bisnis yang nyata dan berkelanjutan bagi Desa Bakti BCA. Kerja sama yang berkelanjutan menjadi kata kunci, karena kunjungan wisatawan yang datang sekali saja belum cukup untuk menopang ekonomi desa dalam jangka panjang.
Potensi kunjungan dan pendapatan yang tercatat dalam ajang ini masih berstatus potensi, bukan realisasi. Artinya, angka 124 wisatawan dan Rp242 juta menggambarkan peluang yang terbuka dari penjajakan kemitraan, yang selanjutnya perlu ditindaklanjuti menjadi pemesanan dan kunjungan nyata.
Tindak lanjut itu menjadi pekerjaan rumah berikutnya bagi pengelola desa. Mereka perlu menyiapkan paket wisata yang jelas, harga yang transparan, serta standar layanan yang konsisten, agar minat yang muncul di pameran tidak berhenti sebagai ketertarikan sesaat.
Bagi desa wisata, pameran internasional seperti WITF juga menjadi ajang pembelajaran. Pengelola bisa membandingkan produknya dengan destinasi lain, memahami selera wisatawan mancanegara, dan memperbaiki kekurangan sebelum benar-benar menerima kunjungan dari pasar global.
Jika potensi ini berhasil diwujudkan menjadi kunjungan nyata, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh warga desa, mulai dari pengelola homestay, pemandu wisata, pelaku kuliner, hingga perajin. Pariwisata desa dengan demikian tidak hanya menjadi etalase keindahan, tetapi juga sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakatnya.
Apa poin penting dari berita ini?
- Sebelas desa wisata binaan Bakti BCA berpartisipasi dalam Wonderful Indonesia Tourism Fair 2026 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
- Partisipasi itu menghasilkan potensi kunjungan 124 wisatawan dan potensi pendapatan desa sebesar Rp242 juta, dengan 64 pelaku industri pariwisata terlibat dalam diskusi kerja sama.
- Penjajakan kemitraan menyasar pasar perjalanan internasional di Asia, Eropa, hingga Afrika untuk memperluas pemasaran paket wisata desa Indonesia.
- EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebut akses pasar yang luas sebagai pintu gerbang pertumbuhan sektor wisata dan peluang kerja sama yang berkelanjutan.
- Angka kunjungan dan pendapatan tersebut masih berstatus potensi yang perlu ditindaklanjuti menjadi pemesanan dan kunjungan nyata agar manfaatnya dirasakan warga desa.

