Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan pemerintah daerah dan seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah. Imbauan itu disampaikan di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026, seiring masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan serta munculnya Bibit Siklon Tropis 91B.
Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan, data BNPB hingga Kamis, 29 Oktober 2026, mencatat 2.236 kejadian bencana di Indonesia. Dari jumlah itu, bencana hidrometeorologi mendominasi secara signifikan, yakni 99,19 persen, sementara bencana geologi tercatat 0,81 persen.
“Urutan kejadian bencana terbanyak hingga saat ini didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 1.040 kejadian, diikuti banjir 590 kejadian, cuaca ekstrem 340 kejadian, kekeringan 125 kejadian, dan tanah longsor 109 kejadian,” ujar Berton, Jumat, 30 Oktober 2026.
Seiring waktu, fokus penanganan bencana digeser dari mitigasi karhutla menuju kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah. Pergeseran itu sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 berlangsung bertahap dari November hingga Desember 2026, dengan puncaknya pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Situasi menjadi semakin dinamis dengan terbentuknya Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman, sebelah utara Aceh, pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 01.00 WIB. Dampak tidak langsung bibit siklon itu dalam 24 jam ke depan berpotensi memicu hujan intensitas sedang hingga lebat di Aceh dan Sumatera Utara, serta gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di Selat Malaka bagian utara.
“Dampak tidak langsung dari bibit siklon ini dalam 24 jam ke depan berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Aceh dan Sumatera Utara, serta menimbulkan gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di Selat Malaka bagian utara,” tutur Berton.
Untuk tiga hari ke depan, 29-31 Oktober 2026, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Status Siaga, yakni potensi hujan lebat hingga sangat lebat, berlaku untuk Aceh, Lampung, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Status Waspada, yakni hujan sedang hingga lebat, mencakup Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.
BNPB mendesak seluruh pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan dini secara masif dan terstruktur. “Pemerintah daerah diminta untuk segera mengaktifkan posko siaga bencana, memastikan kesiapan peralatan serta logistik, merapikan dan membersihkan aliran sungai, drainase, maupun gorong-gorong, serta memetakan kembali wilayah-wilayah yang rawan banjir, tanah longsor, dan bencana pesisir,” tegas Berton.
Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan jalur evakuasi yang jelas, menyebarluaskan peringatan dini BMKG dengan cepat kepada warga, serta memastikan kesiapan fasilitas pendukung seperti layanan kesehatan, dapur umum, dan lokasi pengungsian yang layak.
Bagi masyarakat, BNPB mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan saluran air dan tidak membuang sampah ke sungai, mengenali jalur evakuasi, serta menyiapkan tas darurat beserta dokumen penting. Warga juga diminta mewaspadai tanda longsor seperti retakan tanah, air keruh, atau pohon miring; saat hujan lebat, menjauhi sungai, lereng, dan pantai, serta tidak melaut ketika gelombang tinggi.
Apa poin penting dari berita ini?
- BNPB mengingatkan pemda dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi basah saat peralihan ke musim hujan dan munculnya Bibit Siklon Tropis 91B.
- Data BNPB hingga 29 Oktober 2026 mencatat 2.236 kejadian bencana, dengan hidrometeorologi 99,19 persen dan geologi 0,81 persen.
- Kejadian terbanyak adalah karhutla 1.040 kejadian, banjir 590, cuaca ekstrem 340, kekeringan 125, dan tanah longsor 109.
- Musim hujan 2026/2027 diperkirakan mulai bertahap November-Desember 2026 dengan puncak Desember 2026 hingga Februari 2027.
- Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat di Aceh dan Sumatera Utara serta gelombang 1,25-2,5 meter di Selat Malaka utara.
- BMKG menetapkan Status Siaga untuk tujuh provinsi dan Status Waspada untuk sebagian besar wilayah Indonesia pada 29-31 Oktober 2026.
- Pemda diminta mengaktifkan posko siaga, menyiapkan peralatan dan logistik, membersihkan sungai dan drainase, serta memetakan wilayah rawan.


