Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan akan memperkuat pengelolaan dan restorasi kawasan gambut sebagai upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang. Komitmen itu disampaikan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional di Palembang pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Menurut Deru, kawasan gambut kerap menjadi sumber awal kebakaran, terutama ketika lahan mengering pada musim kemarau. Gambut yang kering mudah terbakar dan sulit dipadamkan, sehingga pencegahan di kawasan ini menjadi kunci untuk menekan karhutla di Sumatera Selatan.
Pengelolaan sebelumnya disebut terhambat oleh lembaga induk yang tidak aktif, sehingga pendanaan menjadi terbatas. Karena itu, pemerintah provinsi akan memperkuat kolaborasi antar-lembaga dan mengaktifkan kembali lembaga gambut di daerah, agar program pengelolaan dan restorasi tidak berjalan sendiri-sendiri.
Langkah yang ditempuh dimulai dari identifikasi akar masalah: apakah kebakaran dipicu kebiasaan masyarakat membuka lahan, kerusakan yang sudah terjadi, atau pembakaran yang disengaja oleh pelaku kecil maupun besar. Setiap penyebab membutuhkan penanganan yang berbeda, sehingga pemetaan masalah menjadi langkah awal yang penting.
Secara teknis, pengelolaan air menjadi penekanan utama. Sistem tata air dijaga agar gambut tetap basah, antara lain melalui sekat kanal yang menahan air di kanal-kanal gambut. Permukaan air gambut diminta dipertahankan minimal 0,4 meter, dengan prinsip sederhana: gambut tidak boleh kering.
Skala tantangannya besar. Sumatera Selatan memiliki sekitar 10 persen luas gambut nasional, dengan kawasan hidrologis gambut seluas 2 juta hektare dan kawasan terdampak seluas 1,27 juta hektare. Luas itu menunjukkan bahwa pencegahan karhutla di provinsi ini tidak bisa ditangani dengan satu program saja, melainkan membutuhkan kerja lintas lembaga dari tingkat desa hingga nasional.
Peserta Rakornas dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke Ogan Komering Ilir (OKI). Dalam pemantauan gubernur, kondisi OKI disebut membaik, sementara Banyuasin dilaporkan tidak memiliki titik panas. Perkembangan itu menjadi sinyal awal bahwa upaya pengelolaan mulai menunjukkan hasil, meski kewaspadaan tetap diperlukan.
Peringatan yang disampaikan Deru patut dicatat: pencegahan tidak boleh dilupakan begitu hujan turun. Pemerintah di semua tingkatan diminta tetap memberi perhatian, dan wartawan pun diminta terus memantau persoalan ini, agar gambut yang sudah dibasahi tidak kembali mengering dan menjadi sumber api pada musim kemarau berikutnya.
Apa poin penting dari berita ini?
- Pemprov Sumatera Selatan akan memperkuat pengelolaan dan restorasi gambut untuk mencegah karhutla berulang.
- Komitmen itu disampaikan Gubernur Herman Deru pada pembukaan Rakornas di Palembang, Kamis, 29 Oktober 2026.
- Gambut yang mengering pada musim kemarau kerap menjadi sumber awal kebakaran dan sulit dipadamkan.
- Langkah yang ditempuh meliputi identifikasi akar masalah, kolaborasi antar-lembaga, pengaktifan kembali lembaga gambut daerah, dan tata air dengan sekat kanal.
- Permukaan air gambut harus dipertahankan minimal 0,4 meter; Sumsel memiliki 2 juta hektare kawasan hidrologis gambut dan 1,27 juta hektare kawasan terdampak.


