Tim peneliti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa mengembangkan model pengajaran ekoteologi berbasis etnopedagogi di pesantren. Riset ini mencoba menghubungkan ajaran agama tentang pelestarian lingkungan dengan kearifan lokal dan praktik kehidupan masyarakat, sehingga persoalan lingkungan tidak hanya dipahami sebagai isu teknis, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral dan keagamaan.
Ketua Peneliti, Prof. Mohd Nasir, mengatakan penelitian diarahkan untuk menghasilkan model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pendidikan pesantren, terutama dalam membangun pemahaman mengenai persoalan lingkungan melalui pendekatan keagamaan dan kearifan lokal. Model ini diharapkan dapat dipakai para pendidik pesantren dalam mengajarkan kepedulian lingkungan dengan bahasa dan nilai yang dekat dengan kehidupan santri.
“Etnopedagogi merupakan pendekatan pembelajaran yang menjadikan pengetahuan lokal, tradisi, nilai dan praktik budaya masyarakat sebagai bagian dari sumber belajar,” kata Prof. Nasir kepada AJNN, Kamis, 29 Oktober 2026. Pendekatan tersebut kemudian dipadukan dengan ekoteologi, yaitu cara memahami hubungan manusia, lingkungan, dan Tuhan melalui perspektif keagamaan.
Dengan konsep itu, persoalan lingkungan tidak hanya dipandang dari aspek ekologis, tetapi juga dikaitkan dengan nilai dan tanggung jawab keagamaan dalam menjaga alam. Misalnya, menjaga air, tanah, dan hutan dapat diajarkan bukan hanya lewat penjelasan ilmiah tentang ekosistem, tetapi juga lewat nilai amanah dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Memasuki tahun pertama, tim peneliti telah mengajukan artikel ilmiah ke Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies (JCIMS), jurnal internasional yang diterbitkan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Selain artikel ilmiah, penelitian ditargetkan menghasilkan buku ber-ISBN, infografis, policy brief atau ringkasan rekomendasi kebijakan, naskah akademik, konsep ekoteologi, serta model pelatihan ekoteologi.
Produk yang dihasilkan juga direncanakan diajukan untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI), khususnya hak cipta. Menurut Prof. Nasir, penyusunan berbagai luaran penelitian sejauh ini telah mencapai sekitar 60 persen dari target. Pada tahun kedua, tim berencana kembali melakukan pengumpulan data di Pesantren Misykat Al-Anwar, Bogor, Jawa Barat.
Data lapangan tersebut akan digunakan untuk menyempurnakan kajian sekaligus pengembangan model pembelajaran dan pelatihan ekoteologi berbasis etnopedagogi. Dengan demikian, riset ini tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi diuji di lapangan pesantren dan disempurnakan berdasarkan praktik nyata para pendidik dan santri.
Bagi dunia pendidikan pesantren, model seperti ini membuka peluang untuk mengajarkan isu lingkungan dengan cara yang membumi: santri belajar merawat lingkungan lewat nilai agama dan tradisi lokal yang mereka kenal, bukan lewat teori yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Bila model ini berhasil, ia dapat menjadi contoh bagi pesantren lain yang ingin memadukan pendidikan agama dengan kepedulian ekologis.
Apa poin penting dari berita ini?
- Tim peneliti IAIN Langsa mengembangkan model pengajaran ekoteologi berbasis etnopedagogi di pesantren.
- Etnopedagogi menjadikan pengetahuan lokal, tradisi, nilai, dan praktik budaya masyarakat sebagai sumber belajar.
- Ekoteologi memahami hubungan manusia, lingkungan, dan Tuhan melalui perspektif keagamaan.
- Memasuki tahun pertama, tim telah mengajukan artikel ilmiah ke jurnal internasional JCIMS dan menargetkan buku ber-ISBN, infografis, policy brief, naskah akademik, dan model pelatihan.
- Penyusunan luaran penelitian telah mencapai sekitar 60 persen; tahun kedua tim akan mengumpulkan data di Pesantren Misykat Al-Anwar, Bogor.


