Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai fundamental ekonomi nasional masih kuat di tengah tekanan pasar keuangan dan ketidakpastian global. Penilaian itu disampaikan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Dalam sambutannya, Anindya meminta masyarakat menilai kondisi ekonomi berdasarkan indikator fundamental, bukan hanya gejolak pasar. Ia membandingkan pertumbuhan ekonomi saat ini dengan periode krisis sebelumnya. Menurut data yang disampaikannya, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 13 persen pada 1998 dan minus 2,1 persen pada 2020 saat pandemi COVID-19, sedangkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan.
“Banyak yang menanyakan kepada kami, apakah Indonesia diambang krisis? Menurut kami lebih baik kita melihat ke fundamental saja, kita lihat tahun 98 minus 13 persen, 2020 waktu COVID minus 2,1 persen, kemudian sekarang plus 5,61 persen. Jadi dapat kita sampaikan, melihat data fundamental kita kuat,” ujar Anindya.
Anindya tidak menutup mata terhadap tekanan yang ada. Ia menyebut arus modal asing keluar mencapai Rp124 triliun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 40 persen sepanjang 2026, dan nilai tukar dolar Amerika Serikat menyentuh sekitar Rp18.170 per dolar AS. Tekanan tersebut, kata dia, nyata dan harus diwaspadai, tetapi tidak serta-merta menggambarkan seluruh kondisi perekonomian.
Sebagai pembanding, Anindya memaparkan sejumlah indikator yang menurutnya menunjukkan ketahanan ekonomi. Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat Rp270 triliun, rata-rata laba bersih emiten tumbuh 16 persen, cadangan devisa mencapai US$146 miliar, dan pertumbuhan kredit secara tahunan mencapai 13,3 persen. “Kita tidak mengatakan bahwa kondisi di sisi yang bertekanan itu tidak ada. Kondisi tersebut ada dan harus diwaspadai. Namun, kita perlu kembali melihat fundamental,” tegasnya.
Di luar indikator makro, Anindya menyoroti daya saing industri nasional. Ia mengungkapkan sebanyak 77 merek dagang dunia, antara lain Airbus, Tesla, On, dan Nike, telah membeli komponen buatan Indonesia, dengan nilai ekspor komoditas komponen mencapai US$300 miliar. Untuk memperkuat tren tersebut, Kadin mendorong inisiatif “We Buy From Indonesia” dan diplomasi ekonomi agar produk Indonesia semakin banyak dibeli pasar global.
Rapimnas Kadin yang berlangsung pada 29–30 Oktober 2026 itu juga menyiapkan langkah penguatan ekonomi nasional, antara lain pembentukan bantalan krisis, pengamanan bahan baku produksi, peningkatan kepastian usaha, dan peningkatan kapasitas industri lokal agar memperoleh peran lebih besar dalam rantai pasok global. Anindya juga menyinggung langkah sejumlah negara menyiapkan cadangan darurat, misalnya Amerika Serikat yang membangun stok bahan bakar minyak dan Inggris yang mengimbau warganya mampu bertahan mandiri selama 72 jam dalam keadaan darurat.
Indonesia, kata Anindya, sedang memperkuat ketahanan pangan, air, dan energi di tengah situasi global yang tidak menentu. Pesan yang ia tekankan kepada pelaku usaha dan masyarakat adalah menilai situasi berdasarkan data fundamental secara menyeluruh, agar tidak terpengaruh hiruk-pikuk pasar sesaat, sambil tetap mewaspadai risiko yang ada.
Apa poin penting dari berita ini?
- Ketua Umum Kadin Anindya Novyan Bakrie menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, dengan pertumbuhan 5,61 persen pada triwulan I 2026, dalam Rapimnas Kadin di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
- Anindya membandingkan kondisi saat ini dengan kontraksi 13 persen pada 1998 dan minus 2,1 persen pada 2020 saat pandemi COVID-19.
- Tekanan pasar yang diakui Anindya meliputi arus modal asing keluar Rp124 triliun, pelemahan IHSG 40 persen, dan dolar AS sekitar Rp18.170.
- Indikator ketahanan yang dipaparkan meliputi PMA Rp270 triliun, laba bersih emiten tumbuh 16 persen, cadangan devisa US$146 miliar, dan pertumbuhan kredit 13,3 persen.
- Sebanyak 77 merek dunia telah membeli komponen buatan Indonesia, dengan nilai ekspor komponen mencapai US$300 miliar.


