Thursday, 29 October 2026
Teknologi

Penolakan terhadap Pusat Data Makin Masif di Berbagai Negara, Ini Penyebabnya

Penolakan terhadap Pusat Data Makin Masif di Berbagai Negara, Ini Penyebabnya

Penolakan terhadap pembangunan pusat data semakin masif di berbagai negara. Bangunan-bangunan raksasa yang mirip gudang ini mendukung hampir seluruh aktivitas internet kita, mulai dari pencarian web dan email hingga unduhan film atau perbankan online. Bangunan itu berada di jantung perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI), karena berfungsi menampung chip komputer canggih dan server yang diperlukan untuk menjalankan layanan seperti ChatGPT dan Claude.

Namun, laju pertumbuhannya yang drastis, jumlah listrik yang sangat besar yang dikonsumsinya, serta kekhawatiran mengenai dampak lingkungannya memicu reaksi keras dari masyarakat di seluruh dunia. Menurut Data Center Map, sebuah perusahaan yang memantau lokasi-lokasi pusat data yang sudah beroperasi maupun yang masih dalam tahap pra-operasi, terdapat sekitar 12.250 pusat data di seluruh dunia. Angka itu meningkat tajam dibandingkan 2021, ketika terdapat sekitar 8.000 lokasi yang sudah beroperasi.

Pusat data paling padat terkonsentrasi di Amerika Serikat, yang memiliki 4.767 lokasi, diikuti Inggris dan Jerman. Namun, dalam hal kapasitas aktual, Amerika Serikat unggul dengan selisih yang jauh lebih besar, diikuti Tiongkok di posisi kedua, sementara Eropa tertinggal jauh di belakang. Kesenjangan ini diperkirakan akan semakin melebar dalam beberapa tahun mendatang, sehingga beberapa pihak memperingatkan bahwa Eropa berisiko kehilangan potensi manfaat ekonomi dari booming kecerdasan buatan.

Ukuran pusat data sangat bervariasi, mulai dari yang muat di dalam gudang kebun hingga yang menempati lahan amat luas. Pusat data terbesar di dunia dilaporkan berada di Hohhot, Mongolia, dengan luas mencapai satu juta meter persegi, atau setara 140 kali lapangan sepak bola standar FIFA, dan dimiliki oleh China Telecom. Lokasi-lokasi yang jauh lebih besar sedang dalam tahap pembangunan, dan semuanya dibangun secara eksklusif untuk menyediakan daya komputasi yang sangat besar untuk menjalankan layanan AI.

Salah satu contohnya adalah Colossus 2, bagian dari kompleks Colossus yang lebih luas di Amerika Serikat, yang akan menampung ratusan ribu chip AI canggih buatan Nvidia dan digunakan untuk melatih chatbot xAI, Grok. Perusahaan milik Elon Musk akan menggunakan 41 turbin gas metana untuk membantu menyuplai daya ke lokasi tersebut, yang menurut para aktivis dapat secara signifikan meningkatkan polusi udara lokal. Regulator setempat menyatakan bahwa turbin-turbin tersebut akan memenuhi standar kualitas udara.

Mengapa penolakan semakin meluas? Tekanan yang ditimbulkan pusat data terhadap sumber daya lokal telah memicu kekhawatiran yang semakin besar. Fasilitas-fasilitas ini dapat menggunakan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan sistem mereka, yang menurut beberapa ahli berpotensi menyebabkan kelangkaan air. Pusat data di seluruh dunia juga diperkirakan mengonsumsi listrik lebih banyak daripada seluruh Prancis. Analisis menunjukkan bahwa meningkatnya kebutuhan akan listrik ini mendorong kenaikan emisi karbon, sekaligus memberikan tekanan pada jaringan listrik lokal, yang dikhawatirkan oleh sebagian pihak dapat memicu kenaikan harga energi. Di sisi lain, ada pula kekhawatiran mengenai kebisingan yang ditimbulkan pusat data serta ruang yang mereka tempati.

Di Amerika Serikat, isu ini telah menjadi perdebatan besar menjelang pemilihan sela pada 3 November, dengan Partai Republik maupun Demokrat sama-sama menentang pengembangan pusat data. Hal ini menempatkan para penentang perluasan pusat data pada jalur bentrokan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang telah menepis penolakan tersebut sebagai konspirasi gila, meskipun kemarahan publik terus meningkat. Sekitar 16 negara bagian di Amerika Serikat telah mengusulkan undang-undang untuk melarang atau menghentikan sementara pembangunan fasilitas baru, dan hal ini berpotensi menjadi isu utama dalam pemilihan sela pada November mendatang. Di luar Amerika Serikat, penolakan terhadap pusat data juga muncul di negara-negara seperti Meksiko, Prancis, Indonesia, dan Inggris.

Di sisi lain, para pendukung pusat data berpendapat bahwa fasilitas tersebut sangat penting bagi keamanan nasional dan pengembangan kecerdasan buatan. Mereka juga menyatakan bahwa pusat data bermanfaat bagi perekonomian, karena menarik investasi, menghasilkan penerimaan pajak, dan menciptakan lapangan kerja di sektor-sektor seperti konstruksi. Laporan terbaru dari Brookings Center menunjukkan bahwa pusat data memang menciptakan lapangan kerja lokal, meskipun jumlahnya lebih sedikit daripada yang diklaim oleh para pendukung industri ini. Jenis pusat data juga berpengaruh: fasilitas hyperscale, yaitu lokasi berskala besar yang dimiliki dan dioperasikan oleh raksasa teknologi seperti Amazon dan Microsoft, memiliki dampak positif yang lebih besar terhadap lapangan kerja, sementara fasilitas colocation, yang menyewakan ruang kepada penyewa jarak jauh tanpa kehadiran fisik di lokasi tersebut, memberikan manfaat yang lebih sedikit.

Seiring dengan semakin memanasnya perdebatan mengenai manfaatnya, pembangunan pusat data terus berlanjut. Tahun ini, industri teknologi diperkirakan akan menghabiskan total 765 miliar dolar Amerika Serikat untuk infrastruktur AI, dan angkanya diperkirakan naik melampaui 1 triliun dolar Amerika Serikat pada 2027. Namun, seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak lingkungan, industri teknologi sedang menjajaki alternatif lain, salah satunya menempatkan pusat data di luar angkasa atau di Bulan, di mana pusat data tersebut dapat memanfaatkan energi surya yang melimpah. Pihak lain memperkirakan bahwa pemrosesan AI yang lebih banyak pada akhirnya dapat dilakukan oleh perangkat keras yang sudah ada di dalam komputer dan ponsel cerdas kita, sehingga mengurangi kebutuhan akan pusat data berskala besar secara keseluruhan.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Penolakan terhadap pembangunan pusat data semakin masif di berbagai negara karena laju pertumbuhannya yang drastis, konsumsi listrik yang sangat besar, dan kekhawatiran mengenai dampak lingkungannya.
  • Terdapat sekitar 12.250 pusat data di seluruh dunia, meningkat tajam dari sekitar 8.000 lokasi pada 2021, dengan Amerika Serikat memiliki 4.767 lokasi, diikuti Inggris dan Jerman.
  • Pusat data terbesar di dunia dilaporkan berada di Hohhot, Mongolia, dengan luas satu juta meter persegi, atau setara 140 kali lapangan sepak bola standar FIFA.
  • Pusat data dapat menggunakan air dalam jumlah besar untuk pendinginan dan diperkirakan mengonsumsi listrik lebih banyak daripada seluruh Prancis, sehingga dikhawatirkan memicu kelangkaan air, kenaikan emisi karbon, dan tekanan pada jaringan listrik lokal.
  • Sekitar 16 negara bagian di Amerika Serikat telah mengusulkan undang-undang untuk melarang atau menghentikan sementara pembangunan fasilitas baru, sementara penolakan juga muncul di Meksiko, Prancis, Indonesia, dan Inggris.
  • Para pendukung pusat data menilai fasilitas itu penting bagi keamanan nasional dan pengembangan kecerdasan buatan, serta bermanfaat bagi perekonomian lewat investasi, penerimaan pajak, dan lapangan kerja.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *