Perjalanan hidup Agista Saputri (10) berubah drastis setelah anak seorang pemulung asal Tangerang, Banten, itu menjadi siswi Sekolah Rakyat (SR). Kisahnya menjadi sorotan pada Rabu, 28 Oktober 2026, karena ia menyimpan mimpi besar: melukis Presiden.
Agista tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ayahnya bekerja sebagai pemulung, pekerjaan yang menuntut kerja keras setiap hari demi menghidupi keluarga. Di tengah keterbatasan itu, Agista tetap memegang cita-cita dan semangat belajar.
Mengapa kisah ini menginspirasi? Sekolah Rakyat hadir untuk memberi akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Bagi Agista, kesempatan itu membuka jalan yang sebelumnya sulit dijangkau: belajar dengan layak, tinggal di lingkungan sekolah yang mendukung, dan mengembangkan bakatnya.
Bagaimana perubahan itu terjadi? Setelah menjadi siswi SR, Agista mendapat kesempatan belajar secara terstruktur dan mengembangkan minatnya pada seni lukis. Mimpinya melukis Presiden bukan sekadar angan, melainkan ungkapan rasa terima kasih dan kekaguman seorang anak yang hidupnya berubah karena pendidikan.
Kisah Agista juga menggambarkan peran pendidikan dalam memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga pemulung bisa bermimpi setinggi apa pun bila diberi akses, pendampingan, dan kesempatan yang setara dengan anak-anak lain.
Ke depan, Agista berharap terus belajar dan mengasah bakat melukisnya. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap anak dari keluarga sederhana, ada potensi besar yang menunggu kesempatan untuk tumbuh.
Apa poin penting dari berita ini?
- Agista Saputri (10) adalah anak seorang pemulung asal Tangerang, Banten.
- Ia kini menjadi siswi Sekolah Rakyat.
- Agista bermimpi melukis Presiden.
- Sekolah Rakyat memberi akses pendidikan gratis bagi anak kurang mampu.
- Kisahnya menunjukkan pendidikan dapat membuka jalan bagi anak dari keluarga sederhana.


