Wednesday, 28 October 2026
Pendidikan

Wamenag Serukan Mahasiswa PTKIN Perkuat Gerakan Intelektual untuk Indonesia Emas 2045

Wamenag Serukan Mahasiswa PTKIN Perkuat Gerakan Intelektual untuk Indonesia Emas 2045

Konsolidasi Nasional III Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) Se-Indonesia menjadi momentum konsolidasi gerakan mahasiswa dalam menyikapi isu-isu strategis nasional. Forum yang berlangsung di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumatera Utara), Medan, pada 21 hingga 26 Oktober 2026 itu mengusung tema “Sinergi Mahasiswa Untuk Indonesia: Menyatu Dalam Narasi Untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045”.

Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., menegaskan mahasiswa merupakan bagian penting dari masa depan bangsa. Karena itu, mahasiswa PTKIN harus mampu mengembangkan tradisi intelektual, memperkuat integritas, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat. Konsolidasi ini, menurutnya, hendaknya menjadi ruang untuk menyatukan gagasan, memperkuat persaudaraan, dan membangun gerakan mahasiswa yang tidak hanya kritis, tetapi juga mampu menawarkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Sejumlah isu strategis dibahas dalam forum yang mempertemukan mahasiswa PTKIN dari berbagai daerah itu. Pertama, krisis ekologi: pemerintah dituntut mengusut tuntas proyek strategis nasional dan korporasi yang diduga terlibat perusakan lingkungan, dengan penanganan krisis yang tidak berhenti pada respons pascabencana, melainkan diperkuat pencegahan, pengawasan, dan pelibatan masyarakat sipil.

Kedua, evaluasi menyeluruh terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN), khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Ketiga, tata kelola PTKIN yang dinilai perlu diperbaiki, dengan akses pendidikan tinggi yang lebih merata dan kebijakan biaya pendidikan yang mempertimbangkan kemampuan ekonomi mahasiswa dan keluarga. Keempat, tuntutan mengakhiri represivitas dan pembungkaman kebebasan berpendapat di ruang publik.

Staf Ahli Menteri Hak Asasi Manusia, Prof. Dr. Rumadi Ahmad, M.Ag., menegaskan perguruan tinggi harus menjadi ruang yang menjunjung tinggi martabat manusia, menghormati perbedaan, dan menjamin berkembangnya kebebasan akademik yang bertanggung jawab. Mahasiswa, katanya, memiliki peran strategis dalam membangun budaya penghormatan terhadap hak asasi manusia, baik melalui pemikiran kritis, aktivitas organisasi, maupun keterlibatan langsung dalam kehidupan masyarakat.

Rektor UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., menilai konsolidasi mahasiswa merupakan bagian penting dari proses pendidikan kepemimpinan dan pengembangan intelektualitas. Ia berharap forum ini melahirkan gagasan konstruktif, memperkuat kolaborasi antarmahasiswa PTKIN, serta mendorong mahasiswa menjadi generasi yang memiliki kapasitas akademik, integritas moral, dan kepedulian sosial.

Koordinator Pusat Aliansi DEMA PTKIN Se-Indonesia, M. Miftahul Rizqi, menegaskan konsolidasi nasional ini bukan sekadar pertemuan organisasi, melainkan ikhtiar menyatukan arah gerakan mahasiswa di tingkat nasional. Perbedaan latar belakang dan kondisi kampus harus menjadi kekuatan untuk memperkaya perspektif, bukan alasan untuk terpecah. Gerakan yang dibangun harus solid, berbasis kajian, dan konsisten memperjuangkan kepentingan mahasiswa serta masyarakat.

Ketua DEMA UIN Sumatera Utara, Fathi Farich Hasibuan, selaku tuan rumah berharap konsolidasi ini menjadi ruang lahirnya gagasan dan kesepakatan yang memiliki tindak lanjut. Pertemuan ini tidak boleh berhenti pada seremoni dan diskusi, melainkan menghasilkan semangat kolaborasi yang terus terjaga setelah seluruh delegasi kembali ke daerah masing-masing, dan sinergi mahasiswa diwujudkan melalui kerja nyata untuk kampus, masyarakat, dan Indonesia.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *