Wednesday, 28 October 2026
Lingkungan

Sungai Cileungsi Menghitam dan Berbau, Pakar IPB Jelaskan Penyebabnya

Sungai Cileungsi Menghitam dan Berbau, Pakar IPB Jelaskan Penyebabnya

BEKASI — Air Sungai Cileungsi yang menghitam dan berbau menyengat menjadi tanda adanya gangguan serius pada kualitas air sungai tersebut. Penjelasan itu disampaikan Prof Etty Riani, guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University yang ahli di bidang pencemaran dan ekotoksikologi.

Fenomena ini berulang pada musim kemarau, terutama kemarau panjang. Pada masa itu debit sungai mengecil sehingga kemampuan sungai mengencerkan pencemar ikut menurun. Sungai Cileungsi sendiri mengalir menuju Kali Bekasi dan disebut sebagai sumber air baku, sehingga kondisi airnya patut mendapat perhatian.

Menurut Etty, penyebab utama warna hitam dan bau itu bermula dari tingginya bahan organik yang masuk ke sungai, baik dari limbah domestik, peternakan, maupun industri. Bahan organik tersebut diuraikan oleh mikroorganisme, dan proses penguraian itu menghabiskan oksigen terlarut di dalam air.

Akibatnya, nilai kebutuhan oksigen biokimia dan kimiawi meningkat tajam, sementara oksigen terlarut anjlok. Dalam kondisi oksigen sangat rendah, bakteri mereduksi sulfat menjadi sulfida, lalu sulfida bereaksi dengan besi membentuk sulfida besi yang berwarna hitam. Gas hidrogen sulfida menimbulkan bau seperti telur busuk, sementara mangan yang tereduksi ikut mempergelap warna air.

Risiko itu juga meningkat saat hujan pertama turun setelah kemarau panjang. Hujan mengaduk kembali sedimen dasar sungai, menaikkan padatan tersuspensi, menurunkan oksigen terlarut, dan melepaskan amonia, logam terlarut, serta fosfat ke dalam air.

Dampaknya tidak ringan bagi kehidupan air. Ikan dapat mengalami kerusakan insang dan gangguan reproduksi, sedangkan organisme yang peka seperti plankton dan larva dapat mati massal. Polutan yang menumpuk di dalam tubuh organisme juga berpotensi masuk ke rantai pangan manusia.

Untuk memastikan sumber pencemar yang sebenarnya, Etty menekankan perlunya pengujian laboratorium. Parameter yang perlu diperiksa antara lain oksigen terlarut, kebutuhan oksigen biokimia dan kimiawi, padatan tersuspensi, pH, minyak dan lemak, amonia, sulfida, logam berat, serta parameter mikrobiologi. Warna dan bau saja, kata dia, baru merupakan peringatan dini.

Langkah yang direkomendasikan adalah mengevaluasi daya tampung dan daya dukung beban pencemaran sungai. Bila daya tampung itu sudah terlampaui, buangan limbah tambahan tidak boleh lagi dibiarkan masuk ke sungai.

Foto ilustrasi: Pexels (Plato Terentev)

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *