Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Saldi Isra menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang tidak bijak. Ia menilai ketergantungan pada AI bisa melemahkan keahlian dan daya saing generasi muda.
Peringatan ini disampaikan Saldi Isra dalam pandangannya tentang perkembangan AI yang semakin merambah kehidupan sehari-hari, termasuk dunia pendidikan dan dunia kerja. AI kini bisa menulis, merangkum, menghitung, bahkan menjawab soal dalam hitungan detik.
Mengapa kemudahan itu justru dikhawatirkan? Keahlian tidak terbentuk dari jawaban yang instan, melainkan dari proses berpikir: menganalisis masalah, menimbang argumen, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Bila setiap tugas langsung diserahkan kepada mesin, proses latihan itu terlewati, dan kemampuan yang seharusnya terasah menjadi tumpul.
Kekhawatiran ini relevan bagi generasi muda yang tumbuh bersama AI. Mereka adalah kelompok yang paling akrab dengan teknologi, tetapi juga paling berisiko menjadikannya penopang utama dalam setiap pekerjaan. Dalam jangka panjang, kebiasaan itu bisa menggerus daya saing, karena kemampuan berpikir mandiri menjadi pembeda utama manusia dengan mesin.
Bagaimana seharusnya AI dipakai? AI paling bermanfaat bila diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar. AI bisa membantu mencari referensi, memeriksa draf, atau mengolah data, sementara penilaian, penalaran, dan keputusan tetap berada di tangan manusia.
Pendidikan memegang peran kunci di sini. Sekolah dan kampus perlu mengajarkan bukan hanya cara memakai AI, tetapi juga kapan AI boleh dipakai dan kapan seseorang harus berpikir sendiri. Aturan pemakaian yang jelas, disertai penekanan pada orisinalitas karya, membantu siswa dan mahasiswa memakai AI secara bertanggung jawab.
Di dunia kerja pun tantangannya serupa. Perusahaan menghargai pekerja yang mampu memecahkan masalah, bukan sekadar mengoperasikan perangkat. Karyawan yang memahami substansi pekerjaannya akan tetap dibutuhkan, sementara yang hanya mengandalkan jawaban mesin akan mudah tergantikan oleh mesin yang lebih baru.
Peringatan Saldi Isra pada akhirnya bukan ajakan menolak teknologi, melainkan ajakan menggunakannya dengan bijak. Generasi muda yang menguasai AI tanpa kehilangan kemampuan berpikirnya sendiri adalah generasi yang paling siap bersaing di era kecerdasan buatan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi Saldi Isra menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang tidak bijak.
- Ia menilai ketergantungan pada AI bisa melemahkan keahlian dan daya saing generasi muda.
- Keahlian terbentuk dari proses berpikir, bukan dari jawaban instan yang diberikan mesin.
- AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, sementara penalaran dan keputusan tetap berada di tangan manusia.
- Pendidikan perlu mengajarkan kapan AI boleh dipakai dan kapan seseorang harus berpikir sendiri.


