Wednesday, 28 October 2026
Lingkungan

Delapan Hiu Paus Mati dalam Enam Bulan di Selatan Jawa, Peneliti Telusuri Penyebabnya

Delapan Hiu Paus Mati dalam Enam Bulan di Selatan Jawa, Peneliti Telusuri Penyebabnya

Delapan hiu paus ditemukan terdampar mati di pesisir selatan Jawa dalam kurun enam bulan. Para peneliti kini menelusuri penyebab kematian itu melalui pemeriksaan organ dan pengujian laboratorium, karena penyebab pastinya belum bisa dibuktikan.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan ditemukan di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, pada 18 Oktober 2026. Nelayan menemukan hewan sepanjang sekitar sembilan meter itu terdampar, dan tim gabungan berusaha menyelamatkannya. Namun hewan tersebut mati sebelum berhasil dikembalikan ke laut.

Dokter hewan spesialis megafauna akuatik, Dwi Suprapti, yang memimpin pemeriksaan, menjelaskan bahwa perut hiu paus itu masih penuh udang rebon dan teri nasi. Meski demikian, tidak ada perubahan organ yang terlihat secara kasat mata. Melalui nekropsi, peneliti mengambil jaringan untuk diuji di laboratorium, lalu menggabungkan hasil pemeriksaan organ, kualitas lingkungan, dan kondisi oseanografi.

Perairan selatan Jawa merupakan jalur pergerakan hiu paus. Fenomena upwelling, yakni naiknya massa air dari lapisan dalam ke permukaan, membantu menciptakan perairan subur yang mendukung keberadaan udang dan ikan kecil sebagai makanan hiu paus. Akan tetapi, hubungan antara kelimpahan makanan, pergerakan menuju perairan dangkal, dan kejadian terdampar masih perlu dikaji lebih lanjut. Isi lambung saja belum cukup untuk memastikan penyebab kematian.

Dari delapan hiu paus yang terdampar mati itu, tim memperoleh sampel dari enam individu yang diperiksa di Cilacap, Kebumen, dan Bantul. Menurut Iqbal Herwata dari Yayasan Konservasi Indonesia, sepanjang 2011–2023 terdapat 115 kejadian keterdamparan yang melibatkan 127 hiu paus di 23 provinsi, dengan Jawa Barat dan Jawa Timur mencatat kasus terbanyak. Setelah 2020, rata-rata laporan meningkat dari sekitar empat menjadi 20 kasus per tahun. Kenaikan pencatatan ini juga berkaitan dengan kesadaran masyarakat dan pelaporan lewat media sosial, sehingga tidak otomatis berarti kejadiannya meningkat sebesar itu. Sebagian besar individu yang terdampar berukuran 3–9 meter dan berada pada fase remaja.

Para peneliti juga menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan anggaran, peralatan, dan pemeriksaan laboratorium. Kerumunan warga dapat menghambat evakuasi dan pengambilan sampel. Jeratan jaring, sampah plastik, cuaca buruk, dan kondisi perairan dangkal merupakan ancaman yang perlu diperhatikan, tetapi penyebab setiap kematian harus dibuktikan lewat pemeriksaan. Menurut Dwi, Indonesia saat ini belum memiliki publikasi ilmiah yang benar-benar komprehensif untuk menjelaskan fenomena tersebut.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *