Wednesday, 28 October 2026
Kesehatan

Komorbiditas dan Resistensi Obat Jadi Tantangan Berat Penanganan TB di Indonesia

Komorbiditas dan Resistensi Obat Jadi Tantangan Berat Penanganan TB di Indonesia

JAKARTA — Penanganan tuberkulosis (TB) di Indonesia masih menghadapi tantangan kompleks, mulai dari penyakit penyerta atau komorbiditas hingga resistensi terhadap obat anti-tuberkulosis (OAT). Kondisi tersebut dapat memperberat penyakit, menghambat diagnosis, dan meningkatkan risiko kegagalan pengobatan serta kematian pasien.

Hal itu disampaikan Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), NLP Indi Dharmayanti, dalam keterangan resmi pada Senin (26/10/2026). Menurutnya, TB — penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis — tidak hanya berkaitan dengan diagnosis dan pengobatan semata, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor epidemiologis, sosial, klinis, dan biologis yang saling berinteraksi secara kompleks.

Resistensi terhadap OAT menjadi salah satu ancaman krusial dalam pengendalian TB. Kondisi itu menyulitkan tata laksana klinis pasien dan memperpanjang masa terapi. Karena itu, diperlukan pemeriksaan diagnostik yang akurat serta pemantauan pengobatan yang lebih presisi, agar regimen pengobatan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi pasien.

Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, Nastiti Intan Permata Sari, memaparkan bahwa Indonesia saat ini berada di peringkat kedua dunia untuk beban kasus TB terbesar. Secara global, hampir seperempat populasi dunia diperkirakan telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Sebanyak 89 persen kasus TB terjadi pada kelompok usia dewasa, terdiri atas 56 persen laki-laki dan 32 persen perempuan, sedangkan sisanya merupakan kelompok anak-anak.

Penularan TB terjadi melalui percikan pernapasan di udara yang dikeluarkan penderita TB paru aktif. Meski umumnya menyerang paru-paru, bakteri penyebab TB juga dapat menyerang organ lain di luar paru. Untuk menekan penularan, diagnosis dini dan pengobatan segera menjadi kunci, karena keduanya memperpendek masa penularan pasien.

Upaya pencegahan juga perlu didukung pengelolaan lingkungan di fasilitas kesehatan, seperti penggunaan ventilasi khusus dan iradiasi germisidal ultraviolet. Tenaga kesehatan perlu menggunakan alat pelindung diri pernapasan, sedangkan pasien yang mengalami gejala dianjurkan menggunakan masker bedah.

Di sisi lain, Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, Khariri, menjelaskan bahwa komorbiditas dan multimorbiditas turut memengaruhi tingkat keparahan TB. Komorbiditas merupakan penyakit penyerta yang muncul bersamaan dengan penyakit utama, sedangkan multimorbiditas merujuk pada keberadaan beberapa kondisi kronis sekaligus pada satu individu. Sejumlah penyakit dan kondisi yang dapat menyertai TB antara lain diabetes melitus, infeksi HIV, malnutrisi, penyakit ginjal kronis, kanker, serta kondisi imunosupresi lainnya.

Komorbiditas dapat meningkatkan risiko reaktivasi infeksi TB menjadi penyakit aktif. Penyakit penyerta juga dapat menimbulkan gejala yang tidak khas sehingga memperlambat proses diagnosis — pasien dan tenaga kesehatan bisa lebih lama mengenali TB karena gejalanya tertutup atau menyerupai penyakit penyertanya.

Karena tantangan itu saling berkaitan, penguatan kapasitas sumber daya manusia serta pengembangan riset dan pengetahuan menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya akselerasi eliminasi TB di Indonesia. Diagnosis yang cepat, pengobatan yang dipantau ketat, pengelolaan penyakit penyerta, dan pencegahan penularan di fasilitas kesehatan harus berjalan bersamaan, bukan sendiri-sendiri.

Sumber: Media Indonesia. Baca artikel sumber: Komorbiditas dan Resistensi Obat Membayangi Penanganan TB di Indonesia.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *