JAKARTA — Chef de Mission (CdM) kontingen Indonesia, Reda Manthovani, memberikan evaluasi mendalam atas performa atlet nasional usai Asian Para Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang. Meski berhasil melampaui target, Reda menyoroti kondisi fisik atlet yang dinilai masih menjadi kendala utama dalam persaingan di level internasional.
Menurut Reda, masa pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang hanya berlangsung selama tiga bulan belum cukup untuk membentuk ketahanan fisik yang prima. Ia mengamati, banyak atlet yang gagal meraih medali atau tertahan di medali perunggu bukan karena kekurangan teknik, melainkan karena faktor kebugaran.
“Saya melihat beberapa atlet yang belum mendapatkan medali, ataupun yang baru hanya perunggu, itu kalah lebih banyak karena fisik. Kalau teknik, strategi, mereka sudah bagus-bagus, tetapi kalah di fisik. Karena pelatnasnya cuma tiga bulan,” ujar Reda dalam keterangan resmi, Senin (26/10/2026).
Menyikapi temuan tersebut, Reda berharap Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dapat memberikan dukungan lebih, terutama dalam memperpanjang durasi pelatnas. Persiapan yang lebih panjang diyakini berdampak signifikan pada kesiapan fisik atlet sebelum terjun ke kompetisi besar, karena pembentukan daya tahan dan kekuatan tidak bisa dikejar dalam waktu singkat.
Selain mengandalkan anggaran negara, Reda juga mendorong peran aktif sektor swasta. Ia mengajak para pengusaha berkontribusi dalam pembinaan atlet disabilitas melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Kalau memang belum ada kesempatan dari Kemenpora, nanti kita harapkan para pengusaha yang punya CSR untuk membantu terciptanya atlet-atlet disabilitas yang berprestasi,” tambahnya.
Indonesia sendiri menutup kompetisi di Aichi-Nagoya dengan hasil yang membanggakan. Kontingen Merah Putih menempati peringkat kedelapan klasemen akhir dengan total 73 medali, angka yang secara signifikan melampaui target awal yang ditetapkan pemerintah. Capaian itu menjadi bukti bahwa fondasi teknik dan strategi atlet sudah kuat — tinggal fondasi fisik yang perlu diperpanjang pembinaannya.
Reda menegaskan, prestasi tersebut merupakan buah kerja keras seluruh elemen kontingen. Namun ia mengingatkan agar para atlet tidak cepat berpuas diri dan tidak beristirahat terlalu lama, karena hal itu penting untuk menjaga pola makan dan kondisi fisik agar tidak menurun pasca-kompetisi.
Agenda besar sudah menanti, yakni ASEAN Para Games 2027 di Malaysia dan Paralimpiade Los Angeles 2028. Reda berharap pelatnas berkelanjutan dapat segera dilaksanakan, agar jeda pasca-kompetisi tidak menggerus kebugaran yang sudah dibangun.
“Prestasi itu ditentukan di medan pertandingan, tidak di atas kertas. Kalau kita tidak langsung pelatnas, mereka lepas, akhirnya bisa makan sembarangan,” pungkasnya.
Sumber: Media Indonesia. Baca artikel sumber: Evaluasi Asian Para Games 2026: CdM Reda Manthovani Soroti Fisik Atlet dan Durasi Pelatnas.


