BANDA ACEH — Ikatan Putroe Bangsawan Aceh menggelar perkenalan sekaligus musyawarah pertamanya pada Minggu, 25 Oktober 2026, di VIP Tower Coffee, Banda Aceh. Pertemuan itu menjadi ajang silaturahmi para keturunan bangsawan Aceh sekaligus membahas upaya pelestarian sejarah, silsilah, dan warisan budaya Kesultanan Aceh Darussalam.
Ketua Umum Ikatan Putroe Bangsawan Aceh, Cut Sawadi binti Teuku Raja Diwan, memimpin pertemuan tersebut. Hadir pula Teuku Raja Saifullah selaku Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam dan Raja Negeri Lamno Meureuhom Daya, serta Datok Kiam Raja Prof. Dr. Tuan Guru Fekri Juliansyah yang memimpin Institusi Zuriat Raja Sultan se-Nusantara. Pengurus lain yang terlibat antara lain Cut Trisnawati sebagai pembina dan Cut Mutia sebagai sekretaris jenderal.
Dalam pertemuan itu, Saifullah menekankan pentingnya merawat ingatan kolektif tentang para raja dan sultan terdahulu agar tidak hilang ditelan zaman. Ia menyebut sejumlah kerajaan lama di wilayah Aceh, seperti Tamiang, Perlak, Samudera Pasai, Pedir, dan Lamuri, sebagai bagian dari perjalanan sejarah Aceh yang patut mendapat perhatian. Menurutnya, silsilah bukan sekadar daftar nama, melainkan penanda identitas dan kesinambungan sebuah peradaban.
Fekri Juliansyah menambahkan, pertemuan semacam ini sebaiknya tidak berhenti pada silaturahmi saja. Ia mendorong agar musyawarah melahirkan program nyata yang bisa dirasakan keluarga besar keturunan kesultanan maupun masyarakat luas.
Sejumlah agenda bersama pun dirumuskan. Pertama, pendataan silsilah berbasis kajian sejarah agar garis keturunan tercatat rapi dan dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, penguatan pengakuan terhadap garis keturunan para keluarga sultan. Ketiga, kegiatan sosial kemasyarakatan. Keempat, pelibatan keluarga besar kesultanan dalam ziarah dan haul para sultan. Kelima, inventarisasi peninggalan sejarah dan aset Kesultanan Aceh Darussalam.
Agenda keenam berkaitan dengan advokasi. Ikatan ini berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada keluarga keturunan sultan, termasuk kondisi tempat tinggal sebagian keluarga yang disebut masih membutuhkan perhatian.
Pertemuan perdana itu juga dihadiri sejumlah anggota keluarga besar keturunan Kesultanan Aceh Darussalam, yang sultan terakhirnya adalah Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah. Kehadiran mereka menandai langkah awal konsolidasi organisasi yang baru diperkenalkan ini.
Ke depan, Ikatan Putroe Bangsawan Aceh berencana menjadikan pendataan silsilah dan pelestarian warisan budaya sebagai kerja berkelanjutan, bukan kegiatan sekali jalan. Dengan begitu, sejarah kesultanan diharapkan tetap hidup dalam ingatan generasi muda Aceh, sekaligus menjadi modal budaya bagi pembangunan daerah.
Sumber: Waspada Aceh. Baca berita aslinya di: https://waspadaaceh.com/ikatan-putroe-bangsawan-aceh-bahas-silsilah-dan-pelestarian-sejarah-kesultanan/


