Wednesday, 28 October 2026
Nanggroe

Banjir Kepung Empat Gampong Aceh Selatan, Petani Aceh Tamiang Panen Manual di Sawah Tergenang

Banjir Kepung Empat Gampong Aceh Selatan, Petani Aceh Tamiang Panen Manual di Sawah Tergenang

ACEH — Banjir masih mengepung sejumlah gampong di Aceh Selatan dan lahan persawahan di Aceh Tamiang setelah hujan deras mengguyur sejak Sabtu, 24 Oktober 2026. Di Aceh Selatan, air meluap dari sungai dan merendam permukiman, sementara di Aceh Tamiang petani terpaksa memanen padi dengan cara manual di tengah sawah yang tergenang karena tanggul sungai jebol.

Di Kabupaten Aceh Selatan, empat gampong di dua kecamatan terdampak. Gampong Gunong Pulo dan Krueng Batee di Kecamatan Kluet Utara serta Gampong Mersak dan Malaka di Kecamatan Kluet Tengah terendam setelah sungai meluap. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan, Mudatsir, yang dikutip Antara pada Minggu, 25 Oktober 2026, menyebut ketinggian air mencapai sepaha orang dewasa. Ruas jalan nasional Tapaktuan–Subulussalam ikut tergenang, meski arus lalu lintas dilaporkan tetap lancar.

Hujan deras yang masih turun membuat genangan bertahan di beberapa titik. Longsor juga terjadi di dua lokasi ruas jalan Gunung Manggamat–Kotafajar, Kecamatan Kluet Selatan. BPBD mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakaran untuk membersihkan material longsor, dan warga diminta tetap waspada, terutama bila hujan deras kembali turun.

Sementara itu di Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, petani memanen padi dengan sabit di sawah yang masih tergenang. Tanggul sungai di Desa Marlempang jebol sehingga air menggenangi persawahan selama lebih dari sepekan. Petani Desa Teluk Halban, Sugiono (36), mengatakan air sempat lebih dari satu meter sehingga padi tidak bisa dipanen. Panen bertahap baru bisa dimulai pada hari kesembilan, saat batang padi mulai membusuk dan bulirnya rontok.

Kondisi itu mengubah cara kerja petani. Mesin pemanen gabungan tidak bisa beroperasi di air, sehingga hasil panen diangkut memakai perahu karet atau perahu terpal. Pekerja panen pun sulit didapat karena medan berat, air berbau, dan menimbulkan gatal, sehingga panen diperkirakan memakan waktu beberapa pekan. Biaya panen sebelumnya Rp150 ribu per rantai; kini petani dan pekerja memakai sistem bagi hasil 50 persen berbanding 50 persen. Sugiono mengatakan tanpa sistem itu, padi mereka terancam membusuk karena tidak ada yang sanggup memanennya.

Skala dampaknya tidak kecil. Sawah yang terdampak dikelola empat kelompok tani, masing-masing sekitar 25 hektare, dengan lebih dari 100 petani. Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak, menyebut air memang mulai surut, tetapi sebagian besar sawah masih tergenang karena air tidak bisa mengalir optimal. Luas sawah produktif Teluk Halban 62 hektare dengan dua kali tanam setahun, dan sekitar 70 persen di antaranya terdampak saat padi menjelang panen. Pertanian adalah mata pencaharian utama sebagian besar warga desa itu.

Ancaman juga menyasar sekitar satu hektare lahan percontohan teknologi pertanian (PMAAS) yang ditanam sejak Juli dan sudah menguning, namun belum bisa dipanen. Abdullah Boyak menekankan percepatan penanganan tanggul sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian petani, terutama ketika banjir datang menjelang masa panen. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Aceh Tamiang, Irwan Hadi, membenarkan banyak sawah di pesisir Aceh Tamiang terdampak jebolnya tanggul, meski angka hektare pastinya masih menunggu pemutakhiran data.

Foto ilustrasi: CNN Indonesia.

Sumber: CNN Indonesia, “Banjir Kepung 4 Desa di Aceh hingga Petani Teriak Sepekan Sulit Panen”, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20261026063241-20-1419533/banjir-kepung-4-desa-di-aceh-hingga-petani-teriak-sepekan-sulit-panen

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *