JAKARTA — Pada bulan Oktober, Pulau Jawa mengalami kenaikan suhu yang signifikan, tetapi cuaca di Jakarta dan Bogor justru bisa sangat berbeda. Jakarta terasa panas menyengat, sementara Bogor masih berpeluang diguyur hujan.
Penjelasan itu disampaikan Sonni Setiawan, dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University. Menurut dia, perbedaan cuaca dua kota yang berdekatan itu dapat dijelaskan dari posisi matahari, tutupan lahan, kondisi atmosfer, dan topografi.
Pemicu utama kenaikan suhu adalah posisi matahari yang berada tepat di atas Pulau Jawa pada bulan Oktober. Kondisi itu meningkatkan intensitas radiasi matahari yang sampai ke permukaan secara tajam.
Di Jakarta, radiasi tersebut jatuh ke permukaan yang didominasi bangunan beton dan aspal. Tutupan lahan seperti itu mengubah kapasitas panas permukaan, sehingga pemanasan permukaan menjadi lebih besar dan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan kembali ikut meningkat.
Polusi dan uap air di udara kota kemudian menahan radiasi gelombang panjang tersebut, menciptakan efek rumah kaca lokal yang menaikkan suhu udara. Ditambah posisinya sebagai dataran rendah, Jakarta pun terasa semakin panas.
Bogor memiliki kondisi yang berbeda. Kota ini memiliki lebih banyak vegetasi dan ruang terbuka serta udara yang lebih lembap. Topografi pegunungan di selatan, timur, dan barat Bogor membuat udara lembap yang berinteraksi dengan pegunungan lebih mudah membentuk awan.
Hujan yang terbentuk dari proses itu bersifat lokal dan tidak merata di seluruh wilayah Bogor. Artinya, satu kawasan bisa diguyur hujan, sementara kawasan lain di Bogor tetap kering.
Menariknya, kondisi ini tetap dapat terjadi meski El Nino pada tahun ini secara umum menggeser awan ke arah Peru. Awan hujan lokal tetap bisa terbentuk di wilayah dengan topografi khusus seperti Bogor, sehingga hujan lokal di sana bukan hal yang mustahil pada bulan Oktober.
Foto ilustrasi: Pexels (Dapur Melodi)


