Wednesday, 28 October 2026
Pendidikan

Pesantren di Kutai Barat Bekali Santri Keterampilan Bertani hingga Olah Hasil Panen

Pesantren di Kutai Barat Bekali Santri Keterampilan Bertani hingga Olah Hasil Panen

Sebuah pesantren di Kutai Barat, Kalimantan Timur, membekali para santrinya dengan keterampilan bertani. Para santri dibekali keterampilan bercocok tanam, mulai dari perawatan tanaman, proses panen, hingga pengolahan hasil bumi di dapur pesantren untuk konsumsi harian.

Program ini menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berkutat pada pengajian kitab dan hafalan. Keterampilan hidup seperti bertani menjadi bekal penting bagi santri, terutama bagi mereka yang kelak kembali ke kampung halaman dan terjun langsung ke masyarakat.

Tahapan yang diajarkan pun cukup lengkap. Santri tidak hanya belajar menanam, tetapi juga merawat tanaman hingga siap panen, lalu mengolah hasil panen menjadi bahan makanan di dapur pesantren. Dengan begitu, mereka memahami seluruh rantai dari lahan hingga meja makan, bukan hanya satu potong proses saja.

Manfaat langsungnya terasa bagi pesantren itu sendiri. Hasil bumi yang diolah untuk konsumsi harian membantu menekan biaya pangan pesantren sekaligus memastikan santri mendapatkan makanan segar dari kebun yang mereka rawat sendiri. Kemandirian pangan seperti ini menjadi nilai tambah, terutama bagi pesantren yang berada jauh dari pusat kota.

Dari sisi pendidikan, bertani melatih banyak hal sekaligus: kesabaran, ketekunan, kerja sama, dan tanggung jawab. Tanaman tidak tumbuh karena diperintah, melainkan karena dirawat secara konsisten. Pelajaran semacam ini sulit didapatkan hanya dari ruang kelas.

Program ini juga relevan dengan kondisi Kutai Barat yang memiliki lahan dan tradisi pertanian. Santri yang menguasai keterampilan bertani dapat menjadi penggerak ekonomi di desanya kelak, misalnya dengan mengembangkan pertanian keluarga, membantu kelompok tani, atau membuka usaha olahan hasil bumi.

Lebih jauh, keterampilan bertani membantu mengubah cara pandang terhadap pekerjaan pertanian. Pertanian sering dipandang sebagai pekerjaan kelas dua, padahal dengan pengetahuan dan pengolahan yang baik, pertanian dapat menjadi sumber penghidupan yang layak dan bermartabat.

Ke depan, model pembekalan seperti ini layak menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain, termasuk pesantren di berbagai daerah. Pendidikan yang memadukan ilmu agama, keterampilan hidup, dan kemandirian ekonomi akan melahirkan lulusan yang siap mengabdi, bukan hanya siap mengajar, tetapi juga siap bekerja dan menciptakan lapangan kerja di lingkungannya.

Foto ilustrasi: Pexels

Sumber: Media Indonesia. Baca berita aslinya di Media Indonesia.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *