Sedikitnya 68 ribu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tercatat telah menjadi pemasok bahan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Angka itu disampaikan sebagai gambaran jangkauan program MBG terhadap pelaku usaha lokal di berbagai daerah.
MBG merupakan program pemerintah yang menyediakan makanan bergizi gratis bagi anak sekolah dan kelompok sasaran lainnya. Program ini membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan, mulai dari beras, sayur, buah, telur, hingga lauk pauk, yang harus tersedia setiap hari di ribuan titik layanan.
Dengan skala sebesar itu, pelibatan UMKM menjadi kunci. Bila bahan pangan hanya dipasok segelintir perusahaan besar, manfaat ekonomi program akan terpusat. Sebaliknya, bila puluhan ribu UMKM di daerah menjadi pemasok, perputaran uang dari program akan mengalir ke petani, peternak, pedagang pasar, dan pengolah makanan lokal.
Namun, menjadi pemasok MBG bukan perkara mudah bagi UMKM. Mereka harus memenuhi standar mutu, ketepatan waktu pengiriman, dan administrasi yang tertib. Bagi usaha kecil yang selama ini beroperasi secara informal, persyaratan tersebut bisa menjadi hambatan tersendiri, sehingga pendampingan dan pembinaan menjadi penting.
Di sisi lain, keterlibatan 68 ribu UMKM juga menunjukkan bahwa program MBG telah membangun rantai pasok yang luas. Rantai pasok ini, bila dikelola dengan baik, dapat memperkuat ketahanan pangan daerah, karena permintaan yang stabil dari program memberi kepastian pasar bagi produsen lokal.
Dari sudut kebijakan, angka ini penting untuk dievaluasi lebih lanjut. Pemerintah perlu memastikan bahwa UMKM yang tercatat sebagai pemasok benar-benar mendapatkan pembayaran tepat waktu dan harga yang wajar, bukan sekadar tercatat dalam daftar, sementara keuntungan justru dinikmati perantara.
Transparansi juga menjadi tuntutan. Publik perlu mengetahui bagaimana UMKM dipilih menjadi pemasok, siapa yang mengawasi mutu bahan pangan, dan bagaimana pengaduan dari pemasok maupun penerima manfaat ditangani. Tanpa transparansi, program sebesar MBG rentan terhadap penyimpangan.
Ke depan, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat atau jumlah UMKM pemasok, melainkan juga dari kualitas gizi yang diterima anak dan keberlanjutan usaha para pemasoknya. Bila kedua hal itu tercapai, MBG tidak hanya menjadi program bantuan pangan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi rakyat di daerah.
Foto ilustrasi: Pexels
Sumber: Media Indonesia. Baca berita aslinya di Media Indonesia.



Joel Bungalow Soroti Potensi Rp7 Triliun Program MBG Aceh
October 26, 2026[…] Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Aceh diperkirakan menggerakkan perputaran ekonomi hingga Rp7 triliun per tahun. Sorotan itu disampaikan Zulfitri, yang akrab disapa Joel Bungalow, pengusaha muda sekaligus Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Aceh, di tengah potensi beroperasinya lebih dari 900 dapur MBG di seluruh Aceh. […]