JAKARTA — Reaksi bersin-bersin atau hidung gatal setelah berada di dekat kucing sering dikaitkan dengan bulu kucing. Namun, benarkah bulu menjadi penyebab utamanya, atau ada zat lain yang memicu reaksi tubuh tersebut? Penjelasan para ahli menunjukkan jawabannya tidak sesederhana anggapan umum.
Faktanya, bulu kucing dapat membawa alergen. Tetapi sumber utama pemicunya berasal dari protein tertentu yang terdapat dalam air liur dan kulit kucing. Alergen itu bisa menempel pada bulu, serpihan kulit, pakaian, hingga perabot rumah, dan gejalanya beragam, mulai dari bersin hingga gangguan pernapasan.
Menurut Purina Institute, alergen yang memicu reaksi pada manusia terutama berasal dari kelenjar air liur dan kelenjar sebaceous atau kelenjar minyak pada kulit kucing. Bertentangan dengan anggapan umum, bulu kucing bukan penyebab langsung reaksi alergi.
Penjelasannya begini: ketika kucing menjilati tubuhnya, protein pemicu alergi berpindah ke bulu dan kulit. Alergen kemudian menyebar ke lingkungan bersama bulu yang rontok dan serpihan kulit mati atau dander. Jadi, bulu berperan sebagai pembawa, bukan sumber utama.
Menukil Mayo Clinic, alergen kucing juga terdapat dalam air liur, urine, dan keringatnya. Partikel alergen berukuran kecil dapat bertahan di udara serta menempel pada pakaian, karpet, dan furnitur. Itulah sebabnya gejala bisa muncul meski seseorang tidak menyentuh langsung kucingnya, dan mengapa alergen sulit hilang sepenuhnya dari ruangan.
Gejala alergi akibat paparan kucing pun beragam. Reaksi yang umum antara lain bersin-bersin, hidung gatal atau tersumbat, mata berair dan gatal, hingga gangguan pernapasan pada orang yang lebih sensitif. Tingkat keparahannya berbeda pada tiap orang, tergantung sensitivitas tubuh dan lamanya paparan.
Untuk mengurangi paparan, langkah yang paling masuk akal adalah mengurangi jumlah alergen di lingkungan: membersihkan rumah secara rutin, mencuci seprai dan kain yang sering ditempeli kucing, membatasi kucing masuk kamar tidur, serta menjaga sirkulasi udara. Memandikan atau menyisir kucing secara teratur juga dapat membantu mengurangi bulu rontok dan dander, meski tidak menghilangkan alergen sepenuhnya.
Yang penting diingat, artikel ini bersifat penjelasan umum, bukan diagnosis. Bila gejala alergi sering kambuh, berat, atau mengganggu pernapasan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya dipastikan dan penanganannya tepat.
Sumber: CNN Indonesia — https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20261022172712-255-1418514/apakah-bulu-kucing-bisa-memicu-alergi-ini-penyebab-dan-gejalanya


