Bulan, pengiring setia Bumi, lahir dari sebuah bencana dahsyat yang terjadi pada masa lalu Tata Surya. Kala itu, Theia, sebuah objek sebesar Mars, menghantam Bumi muda. Tabrakan itu menyebabkan batuan menyublim dalam jumlah besar dan terlontar ke angkasa, dan sebagian materialnya kemudian bergabung membentuk Bulan.
Tata Surya sekarang sudah stabil. Tidak ada lagi tabrakan sebesar itu yang dapat disaksikan manusia. Namun, di bintang-bintang muda lain di Alam Semesta, tabrakan serupa mungkin sedang berlangsung. Para astronom pun menggunakan Teleskop Antariksa James Webb untuk mengintip jejak-jejak tabrakan planet di sekitar bintang muda tersebut.
Lingkungan di sekitar bintang berubah seiring pertambahan usianya. Awalnya bintang dikelilingi piringan protoplanet yang kaya gas, tempat planet-planet terbentuk. Lama kelamaan, gas menipis dan menyisakan piringan puing debu yang miskin gas. Piringan puing inilah yang menjadi perhatian para peneliti.
Selama misinya, Teleskop Antariksa Spitzer yang kini sudah pensiun pernah meneliti piringan puing tersebut dan menemukan sub-kelas khusus yang disebut piringan puing ekstrem. Dalam pengamatannya, Spitzer menemukan bahwa piringan seperti ini menyimpan debu hangat dalam jumlah yang tidak biasa, yang diduga berasal dari tabrakan besar antara benda-benda seukuran planet.
Berdasarkan teori, piringan ekstrem seperti ini seharusnya umum ditemukan. Akan tetapi, pengamatan justru memperlihatkan sebaliknya. Piringan puing ekstrem termasuk langka. Berdasarkan data yang dikumpulkan, para astronom memperkirakan hanya sekitar satu persen bintang muda yang memiliki piringan semacam itu.
Meskipun langka, tim astronom yang dipimpin Kate Su dari Space Science Institute di Boulder, Colorado, berhasil mengumpulkan 21 piringan puing ekstrem. Lima di antaranya berasal dari arsip data pengamatan Teleskop Spitzer, sementara sisanya berasal dari data pengamatan terbaru. Ini menjadi pertama kalinya para astronom berhasil mengumpulkan cukup banyak sistem untuk dipelajari secara bersamaan.
Tujuannya tentu saja untuk memahami piringan puing ekstrem tersebut. Tanpa Teleskop Webb, informasi yang ada sangat terbatas, karena debu hangat dan tanda tabrakan hanya dapat dibaca dengan jelas pada panjang gelombang inframerah. Dengan Webb, para astronom dapat menelusuri komposisi debu dan memperkirakan seperti apa tabrakan yang pernah terjadi di sistem itu.
Temuan ini menjadi cermin masa lalu Tata Surya. Dengan mempelajari tabrakan yang sedang atau baru saja terjadi di bintang lain, para ilmuwan dapat menguji kembali kisah kelahiran Bulan dari tabrakan Theia dan Bumi muda, serta memahami bagaimana planet-planet berbatu terbentuk dan bertahan setelah masa-masa penuh tumbukan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Bulan diduga terbentuk dari tabrakan Theia, objek sebesar Mars, dengan Bumi muda.
- Teleskop James Webb dipakai untuk mempelajari jejak tabrakan planet di sekitar bintang muda.
- Piringan puing ekstrem, penanda tabrakan besar, hanya ditemukan pada sekitar satu persen bintang muda.
- Tim astronom yang dipimpin Kate Su berhasil mengumpulkan 21 piringan puing ekstrem untuk dipelajari.


