Monday, 2 November 2026
Lingkungan

Kekeringan Surutkan Waduk, Tiga Kampung yang Hilang Muncul Lagi

Sisa dinding rumah Kampung Somang yang kembali terlihat setelah air Waduk Karian surut

Kekeringan panjang yang dikaitkan dengan fenomena El Nino pada 2026 menyusutkan permukaan air sejumlah waduk di Indonesia, sehingga sisa-sisa kampung yang bertahun-tahun berada di bawah air kembali muncul dan terlihat. Fenomena itu terjadi di Kampung Somang di Kabupaten Lebak, Banten, kawasan sekitar Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, serta Kelurahan Wuryantoro di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, dengan waktu kemunculan yang berbeda di setiap lokasi.

Di Lebak, penyusutan air Bendungan Karian menyingkap kembali sisa permukiman warga yang ditenggelamkan untuk proyek waduk. Sejak Juli 2026, deretan dinding rumah tanpa atap di Kampung Somang dan tiga kampung lain muncul ke permukaan akibat kekeringan panjang. Satu bangunan masih berdiri utuh di tengah hamparan dinding tanpa atap itu, yakni Masjid Al Mujahidin dengan kubah biru dan menara yang masih lengkap.

Warga mulai meninggalkan Kampung Somang sejak 2023 untuk mendukung proses penggenangan waduk, meski bangunan-bangunan di sana tidak dihancurkan secara total. Karena itu, ketika permukaan air kembali menyusut, sebagian jejak fisik permukiman dapat terlihat kembali. Selain Kampung Somang, kawasan lain yang mengalami hal serupa adalah Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang, dengan warga Kampung Karian yang telah mengosongkan kawasan sejak 2021.

Bendungan Karian sendiri mulai dibangun pada 2015 dan diresmikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada Januari 2024. Proyek Strategis Nasional ini menelan anggaran Rp2,2 triliun, dengan daya tampung hingga 315 juta meter kubik dan luas genangan mencapai 1.773 hektare. Bendungan ini dibangun untuk memasok air bagi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.

Menurut Daryono Perwira Sakti dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), penurunan permukaan air hingga berada di bawah elevasi bekas permukiman dapat membuat kawasan yang sebelumnya terendam kembali tampak. Bangunan, jalan, dan lahan yang masuk wilayah genangan bendungan tidak selalu lenyap secara fisik, sehingga fluktuasi muka air merupakan bagian dari dinamika hidrologi waduk, terutama di wilayah dengan perbedaan musim hujan dan kemarau yang cukup besar.

Namun Daryono menegaskan penyusutan yang sangat ekstrem hingga membuka kawasan yang biasanya terendam dapat mengindikasikan defisit air yang serius. Berdasarkan laporan BMKG, El Nino berada pada kategori sangat kuat pada September 2026. Pemantauan di Banten juga menunjukkan kondisi kekeringan yang cukup serius, tetapi keadaan itu belum cukup untuk menjelaskan seluruh penyebab surutnya waduk.

Penurunan muka air waduk merupakan hasil interaksi beberapa faktor, yaitu berkurangnya curah hujan, menurunnya debit sungai yang memasok waduk, meningkatnya penguapan, serta penggunaan air untuk kebutuhan domestik, pertanian, industri, dan operasional waduk. Karena itu, kemunculan bekas permukiman ini bersifat sementara: jika ketinggian air Waduk Karian kembali melampaui elevasi kawasan tersebut, bagian permukiman yang terlihat saat ini akan kembali berada di bawah air.

Berakhirnya El Nino pun tidak otomatis membuat volume waduk pulih dalam waktu singkat. Kecepatan pemulihan bergantung pada curah hujan di daerah tangkapan air, peningkatan debit sungai, serta jumlah air yang digunakan atau dilepaskan dari waduk. Di sisi lain, Kampung Somang sempat menjadi lokasi pengambilan gambar film horor Jembatan Shiratal Mustaqim sebelum kawasan itu kembali menjadi sorotan karena kemunculannya dari balik surutnya air waduk.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Kekeringan El Nino 2026 menyusutkan waduk hingga sisa kampung di Lebak, Sumedang, dan Wonogiri muncul kembali.
  • Di Bendungan Karian, Kampung Somang, Karian, Susukan, dan Cibolang kembali terlihat sejak Juli 2026.
  • Masjid Al Mujahidin di Kampung Somang masih berdiri utuh dengan kubah biru dan menara lengkap.
  • Bendungan Karian dibangun sejak 2015, diresmikan Januari 2024, beranggaran Rp2,2 triliun dengan genangan 1.773 hektare.
  • Ahli bencana menyebut kemunculan itu sementara dan penyusutan ekstrem mengindikasikan defisit air yang serius.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *