Monday, 2 November 2026
Teknologi

Korsel Buka Peluang Ekspor Teknologi Baterai dan Transmisi Bawah Laut ke RI

Ilustrasi bendera Korea Selatan

Korea Selatan membuka peluang ekspor teknologi baterai canggih dan transmisi listrik bawah laut ke Indonesia. Tawaran itu disampaikan Gahee Han, Head of the Energy Market and Policy Solutions for Our Climate (SFOC), dalam lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Menurut Gahee, delegasi kedua negara telah membahas peluang pengadopsian teknologi asal Korea Selatan di sektor kelistrikan nasional, tetapi tindak lanjut konkret di lapangan masih relatif minim sejak nota kesepahaman (MoU) ditandatangani pada April 2026. Pemerintah Korea Selatan disebut tetap memiliki ketertarikan untuk menjalin kemitraan ekspor dan impor teknologi dengan Indonesia.

Dua teknologi yang menjadi fokus diskusi adalah perangkat baterai generasi terbaru serta jaringan transmisi bertegangan tinggi arus searah atau high voltage direct current (HVDC). Perangkat transmisi canggih semacam ini sangat krusial untuk merancang koneksi jaringan kelistrikan bawah laut antarpulau di Indonesia.

Keberadaan teknologi tersebut dinilai sangat potensial dalam menopang akselerasi transisi energi terbarukan nasional, termasuk merealisasikan target besar Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt (GW). Tanpa penyimpanan energi dan jaringan transmisi yang andal, listrik dari PLTS dalam skala sebesar itu sulit disalurkan secara stabil ke pusat-pusat beban.

Namun Gahee menekankan hambatan utama bukan pada ketersediaan teknologi, melainkan pada ketiadaan mekanisme pasar listrik yang memberi kompensasi atas jasa teknologi tersebut. Industri baterai Korea yang digerakkan SK, Samsung, dan LG memang kompetitif secara teknologi, tetapi menghadapi kesulitan finansial di pasar domestik justru karena pasar listrik negaranya belum menyediakan mekanisme kompensasi yang memadai.

Jika negara asal teknologinya saja belum punya kerangka ekonomi yang membayar jasa penyimpanan energi skala jaringan, ekspor ke Indonesia bukan jalan pintas. Konsekuensinya, Indonesia diminta lebih dulu membenahi aturan pasar listrik sebelum investasi baterai dan transmisi bisa beroperasi secara ekonomis. Tanpa mekanisme tarif untuk layanan penyimpanan, stabilisasi jaringan, dan transmisi antarpulau, peralatan impor hanya akan menjadi aset menganggur.

Dalam kesempatan yang sama, Korea Selatan juga menyinggung kerja sama baja rendah emisi lewat teknologi hydrogen-based direct reduction iron (DRI) milik POSCO. Teknologi itu terhambat justru karena energi terbarukan baru menyumbang sekitar 10 persen bauran pembangkit Korea Selatan, sehingga pasokan listrik bersih yang cukup sulit diperoleh.

Di sisi lain, Indonesia sendiri tengah menghilirisasi rantai pasok baterai. Dewan Ekonomi Nasional mencatat ekspor komponen baterai kendaraan listrik melonjak dari 92 juta dolar AS pada 2024 menjadi 887 juta dolar AS pada 2025, dan diproyeksikan mencapai 3,1 miliar dolar AS pada 2026. Komoditasnya kian beragam melampaui nikel, mencakup litium hidroksida dan karbonat, prekursor, material anoda, katoda LFP, lembaran tembaga, hingga sel baterai utuh, dengan Amerika Serikat, China, dan Korea Selatan sebagai pasar utama.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Korea Selatan membuka peluang ekspor teknologi baterai canggih dan transmisi bawah laut HVDC ke Indonesia.
  • Tawaran disampaikan Gahee Han dari SFOC dalam lokakarya IKJN di Jakarta pada 30 Oktober 2026.
  • Teknologi itu dinilai penting untuk menopang target PLTS 100 gigawatt di Indonesia.
  • Hambatan utama bukan teknologi, melainkan belum adanya mekanisme pasar listrik yang memberi kompensasi jasa penyimpanan dan transmisi.
  • Sejak MoU diteken April 2026, Gahee mengakui belum ada banyak kemajuan konkret dalam kerja sama tersebut.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *