Kementerian Perhubungan terus memperkuat konektivitas transportasi nasional melalui penyelenggaraan angkutan perintis. Penguatan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dengan fokus pada masyarakat di wilayah terdepan, terluar, tertinggal, dan terpencil, yang dikenal dengan singkatan 3TP.
Angkutan perintis adalah layanan transportasi yang diselenggarakan negara di wilayah yang belum terlayani angkutan komersial. Di banyak daerah kepulauan dan pedalaman, layanan komersial sulit berjalan karena jumlah penumpang sedikit dan biaya operasional tinggi. Tanpa subsidi dan penugasan dari pemerintah, warga di wilayah tersebut berisiko terisolasi dari pusat pelayanan, pendidikan, kesehatan, dan pasar.
Pada 2026, pemerintah menyelenggarakan 313 trayek angkutan jalan perintis yang tersebar di 32 provinsi. Layanan tersebut didukung 640 unit bus dengan alokasi anggaran sebesar Rp161,2 miliar. Penetapan jaringan trayek itu mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor KP-DRJD 5188 Tahun 2025 tentang jaringan trayek angkutan orang untuk penyelenggaraan angkutan jalan perintis tahun 2026.
Selain angkutan jalan, pemerintah juga mengoperasikan 265 lintasan angkutan penyeberangan perintis di 24 provinsi dengan dukungan 101 kapal. Layanan penyeberangan ini menghubungkan pulau-pulau yang belum dilayani angkutan penyeberangan komersial. Penetapannya diatur melalui Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor KP-DRJD 6697 Tahun 2025 tentang pelayanan angkutan penyeberangan perintis tahun anggaran 2026.
Di sektor laut, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyelenggarakan 107 trayek kapal perintis penumpang dengan 107 unit kapal pada 2026. Jaringan itu melayani 486 pelabuhan singgah di 184 kabupaten dan kota pada 28 provinsi. Sebanyak 54 trayek atau sekitar 51 persen beroperasi di wilayah timur, 41 trayek atau sekitar 38 persen di wilayah tengah, dan 12 trayek atau sekitar 11 persen di wilayah barat Indonesia.
Sejak 2015 hingga 2026, kapal perintis penumpang telah mengangkut 9.267.338 penumpang dan 1.590.328 ton barang. Angka tersebut menunjukkan bahwa layanan perintis bukan sekadar rute tambahan, melainkan urat nadi mobilitas bagi jutaan warga kepulauan. Angkutan perintis barang atau tol laut juga mencatat kinerja positif, dengan ratusan pelayaran yang melayani puluhan pelabuhan dari wilayah barat hingga timur Indonesia pada semester pertama 2026.
Keberlanjutan layanan ini menjadi perhatian khusus. Kementerian Perhubungan memastikan seluruh layanan angkutan perintis tetap beroperasi hingga akhir 2026, termasuk layanan penyeberangan perintis di Nusa Tenggara Timur yang didukung anggaran sekitar Rp27,99 miliar. Kepastian operasional semacam ini penting agar masyarakat tidak kehilangan akses secara tiba-tiba, distribusi logistik tetap berjalan, dan harga barang di daerah terpencil tidak semakin timpang dibandingkan daerah lain.
Apa poin penting dari berita ini?
Kementerian Perhubungan terus memperkuat konektivitas melalui angkutan perintis bagi wilayah terdepan, terluar, tertinggal, dan terpencil. Pada 2026, layanan itu mencakup 313 trayek angkutan jalan perintis di 32 provinsi dengan 640 bus dan anggaran Rp161,2 miliar, 265 lintasan penyeberangan perintis di 24 provinsi dengan 101 kapal, serta 107 trayek kapal perintis penumpang yang melayani 486 pelabuhan singgah. Sejak 2015 hingga 2026, kapal perintis penumpang telah mengangkut 9.267.338 penumpang dan 1.590.328 ton barang, dan seluruh layanan dipastikan tetap beroperasi hingga akhir 2026.


