Wednesday, 28 October 2026
Kesehatan

DPR: Edukasi Stunting Harus Dipahami dalam Kehidupan Sehari-hari

Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene membahas edukasi stunting

Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, mengajak seluruh pihak untuk memastikan bahwa pengetahuan mengenai stunting benar-benar dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Ajakan itu disampaikannya pada Rabu, 28 Oktober 2026, sebagai penegasan bahwa edukasi adalah fondasi dalam upaya menekan angka stunting di Indonesia.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Anak yang mengalami stunting tidak hanya bertubuh lebih pendek dari standar usianya, tetapi juga berisiko mengalami hambatan perkembangan otak, penurunan daya tahan tubuh, dan produktivitas yang lebih rendah di masa dewasa.

Mengapa edukasi menjadi kunci? Banyak kasus stunting berakar pada kurangnya pengetahuan, bukan semata-mata kurangnya makanan. Sebagian keluarga belum memahami pentingnya gizi seimbang bagi ibu hamil dan balita, pemberian ASI eksklusif, imunisasi lengkap, serta kebersihan lingkungan. Ada pula anggapan keliru yang menganggap tubuh pendek pada anak semata-mata faktor keturunan, sehingga tanda-tanda stunting tidak segera ditangani.

Bagaimana edukasi stunting diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, melalui penyuluhan di posyandu, puskesmas, dan sekolah, agar para ibu, calon pengantin, dan remaja putri memahami gizi dan pola asuh yang benar. Kedua, melalui pendampingan keluarga berisiko stunting oleh kader kesehatan, sehingga pemantauan tumbuh kembang anak berjalan rutin. Ketiga, melalui pemanfaatan media dan tokoh masyarakat untuk menyebarkan pesan yang mudah dipahami dan dapat dipraktikkan di rumah.

Ajakan Ketua Komisi IX DPR ini juga menegaskan bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau tenaga kesehatan. Keluarga, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan media memiliki peran masing-masing: keluarga menerapkan pola asuh dan gizi yang benar, dunia usaha mendukung pemenuhan gizi, dan media menyebarkan informasi yang akurat.

Indonesia telah menetapkan target penurunan prevalensi stunting secara bertahap. Target itu hanya dapat dicapai bila edukasi menjangkau hingga ke tingkat keluarga, dan pengetahuan benar-benar berubah menjadi perilaku sehari-hari: piring makan yang bergizi, air minum yang higienis, imunisasi yang lengkap, dan pemantauan tumbuh kembang yang rutin.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene mengajak seluruh pihak memastikan pengetahuan mengenai stunting dipahami dalam kehidupan sehari-hari.
  • Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi yang tidak memadai pada 1.000 hari pertama kehidupan.
  • Banyak kasus stunting berakar pada kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang, ASI eksklusif, imunisasi, dan kebersihan lingkungan.
  • Edukasi diwujudkan melalui penyuluhan di posyandu dan puskesmas, pendampingan keluarga berisiko, serta pesan media yang mudah dipraktikkan.
  • Pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama keluarga, pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan media.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *