Film dokumenter yang masih dalam pengerjaan tentang SmarterChild, salah satu chatbot awal yang populer di Amerika Utara, memenangkan New Visions Award untuk proyek Amerika Serikat paling menjanjikan di Ji.hlava Documentary Film Festival. Film berjudul Searching for SmarterChild ini disutradarai bersama oleh Zan Gillies dan Lindsey Sitz, seorang jurnalis pemenang Pulitzer, dengan Erin Williams-Weir sebagai produser.
SmarterChild adalah chatbot yang tersedia bagi jutaan rumah tangga pelanggan AOL, Yahoo, dan platform lain. Sekitar 3 juta orang berinteraksi dengannya melalui pesan teks, dan tidak sedikit dari percakapan itu berlangsung kasar. Pertanyaan yang menjadi inti film ini sederhana namun dalam: mengapa manusia cenderung melampiaskan makian kepada bot kecerdasan buatan, dan apakah mereka perlu memikirkan permintaan maaf?
Ide film ini bermula dari pengalaman pribadi kedua sutradaranya. Dua tahun lalu, Gillies dan Sitz menyadari bahwa masing-masing dari mereka, saat masih muda, pernah menggunakan SmarterChild dan bersikap kasar kepadanya. Dari kesadaran itu, mereka mulai mewawancarai orang di jalanan San Francisco tentang ingatan mereka terhadap SmarterChild dan hal yang ingin mereka mintakan maaf.
Penelusuran berlanjut ke para penemu dan insinyur di balik SmarterChild, yang ternyata masih menyimpan rekaman digital setiap sesi obrolan. Para pembuat film telah mewawancarai tim Pantai Barat dan tim Pantai Timur yang menyusun bahasa respons SmarterChild, sebelum proyek itu dijual ke Microsoft dan akhirnya dihentikan.
Para insinyur di Silicon Valley mengaku terkejut melihat betapa kasarnya para pengguna. Mereka sampai mengadakan rapat darurat, lalu menambahkan fitur agar SmarterChild mengenali bahasa kasar dan merespons dengan peringatan serta sedikit sindiran. Jika pengguna tetap berlanjut, bot itu akan berhenti sementara sampai pengguna meminta maaf. Para programmer bahkan membuat sistem penilaian untuk menghitung bobot relatif dari makian yang diterima.
Lebih jauh, film ini mempertanyakan apa yang diungkapkan hubungan manusia dengan kecerdasan buatan tentang diri manusia sendiri. Apakah bot itu dipandang sebagai teman, terapis, asisten, kekasih, atau peran lain? Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika chatbot kini hadir di hampir setiap aspek kehidupan digital.
Sejauh ini film tersebut telah mengumpulkan sekitar 18.000 dolar Amerika Serikat melalui platform urun dana, yang diperkirakan baru sekitar seperlima dari anggaran akhirnya. Para pembuat film berencana mewawancarai lebih banyak pelaku dan pakar interaksi manusia-AI, termasuk seorang pakar permintaan maaf di bidang resolusi konflik dan pengusaha chatbot Lauren Kunze, CEO Pandorabots, yang meneliti bagian otak manusia yang terpicu oleh interaksi dengan AI. Versi akhir film juga direncanakan memuat adegan SmarterChild yang dibangun ulang dan kembali bercakap-cakap.
Apa poin penting dari berita ini?
- Film dokumenter Searching for SmarterChild memenangkan New Visions Award untuk proyek Amerika Serikat paling menjanjikan di Ji.hlava Documentary Film Festival.
- Film ini disutradarai bersama oleh Zan Gillies dan Lindsey Sitz, dengan Erin Williams-Weir sebagai produser, dan mengangkat SmarterChild, chatbot awal yang dipakai sekitar 3 juta orang lewat pesan teks.
- Pertanyaan inti film: mengapa manusia cenderung memaki bot AI, dan apakah mereka perlu meminta maaf atas perilaku itu.
- Gillies dan Sitz menyadari mereka sendiri pernah bersikap kasar kepada SmarterChild saat masih muda, lalu mewawancarai warga San Francisco dan para insinyur di balik chatbot tersebut.
- Insinyur SmarterChild sempat mengadakan rapat darurat karena kekasaran pengguna, lalu menambahkan peringatan, sindiran, hingga penghentian sementara sampai pengguna meminta maaf.
- Film ini baru mengumpulkan sekitar 18.000 dolar AS lewat urun dana, sekitar seperlima anggaran akhir, dan masih akan mewawancarai pakar interaksi manusia-AI serta menampilkan SmarterChild yang dibangun ulang.


