Sunday, 1 November 2026
Antariksa

Debu Mars Dinilai Kurang Abrasif dari Debu Bulan, tapi Partikel Superhalusnya Tetap Jadi Ancaman Astronaut

Rover Perseverance membawa potongan bahan pakaian antariksa untuk menguji debu Mars

Rover Perseverance milik NASA ternyata membawa penumpang kecil yang penting: potongan-potongan bahan pakaian antariksa berukuran kurang dari satu inci persegi, atau sekitar 6,5 sentimeter persegi, yang ditempelkan di tubuh rover. Rover itu sendiri tidak membutuhkan pakaian antariksa, tetapi potongan bahan tersebut menjadi alat uji untuk menilai kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh debu Mars yang ada di mana-mana.

Temuan ini dipaparkan dalam studi terbaru yang terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2026. Penulis utamanya adalah Scott VanBommel, asisten profesor riset bidang ilmu bumi, lingkungan, dan planet di Washington University in St. Louis (WashU), bersama Abigail Knight, ilmuwan staf yang ikut merancang dan menjalankan analisis sejak masih menjadi mahasiswa doktoral. Keduanya juga merupakan peneliti di McDonnell Center for the Space Sciences.

“Mars adalah tempat yang sangat berdebu,” kata VanBommel. “Astronaut yang pergi ke Mars harus bersiap.” Peringatan itu beralasan: debu menjadi salah satu tantangan paling nyata bagi misi berawak ke Planet Merah, karena partikelnya menempel di mana-mana dan sulit dihindari.

Kabar baiknya, studi ini menunjukkan debu Mars kemungkinan tidak seabrasif atau seiritatif debu Bulan. Setelah 1.645 hari Mars terpapar debu, potongan bahan pakaian antariksa di Perseverance menunjukkan sedikit keausan yang terlihat. Pemeriksaan lebih dekat menemukan partikel Mars jauh lebih halus dan membulat dibandingkan butiran Bulan yang tajam dan bergerigi, sehingga lebih kecil kemungkinannya menggores peralatan atau mengiritasi paru-paru manusia.

VanBommel menggambarkannya dengan perumpamaan sederhana: partikel di atmosfer Mars telah tertiup angin selama berpotensi miliaran tahun, sehingga bentuknya membulat seperti kerikil di sungai. Kontrasnya terlihat pada misi Apollo yang jauh lebih singkat daripada kunjungan ke Mars: debu Bulan menggores pelindung wajah helm dan merusak pakaian antariksa, lalu partikel yang menempel di pakaian ikut masuk ke modul Bulan, mengotori udara, dan masuk ke paru-paru hingga menimbulkan gejala mirip demam serbuk sari pada sebagian astronaut.

Namun temuan ini bukan berarti debu Mars aman. Masalah lainnya justru terletak pada ukurannya yang luar biasa halus. VanBommel mengembangkan metode untuk memperkirakan ukuran tiap partikel, dan sebagian di antaranya merupakan partikel superhalus sekecil 100 nanometer, atau sepersepuluh ribu milimeter. Di Bumi, partikel superhalus dari asap dan polusi udara dikenal sebagai ancaman kesehatan serius karena dapat menembus jauh ke paru-paru dan masuk ke aliran darah.

Astronaut memang tidak akan menghirup atmosfer Mars secara langsung, tetapi para insinyur tetap harus memperhitungkan bahaya mikroskopis itu saat merancang habitat, pakaian antariksa, dan filter udara. Sifat elektrostatik debu Mars juga diduga membuatnya lebih mudah menempel pada permukaan tertentu, seperti disampaikan Knight, sehingga desain peralatan harus memperhitungkan penumpukan debu.

Data dari instrumen PIXL (Planetary Instrument for X-ray Lithochemistry) di Perseverance juga memungkinkan peneliti menganalisis komposisi kimia partikel tersebut. Berbeda dengan debu Bulan, material Mars mengandung perklorat dan senyawa lain yang berpotensi beracun, serta diperkaya sulfur, besi, dan silika. Paparan singkat terhadap zat-zat itu mungkin tidak serius mengancam kesehatan astronaut, karena banyak ditentukan oleh dosis dan durasi, tetapi kehadirannya menambah satu risiko lagi yang harus dipertimbangkan perencana misi.

Perseverance dan rover-rover sebelumnya telah memberi wawasan luar biasa tentang sejarah dan kondisi Mars saat ini. Lebih dari itu, misi-misi tersebut berfungsi sebagai uji nyata teknologi yang suatu hari bisa menopang eksplorasi manusia. “Kami telah mengoperasikan rover di permukaan Mars secara terus-menerus selama lebih dari 20 tahun,” kata VanBommel. “Kami tahu debu akan menjadi tantangan, tetapi itu sesuatu yang bisa kami persiapkan dan atasi.”

Apa poin penting dari berita ini?

  • Rover Perseverance membawa potongan kecil bahan pakaian antariksa untuk menguji kerusakan akibat debu Mars, dalam studi 2026 di Proceedings of the National Academy of Sciences oleh Scott VanBommel dan Abigail Knight dari WashU.
  • Setelah 1.645 hari Mars, potongan bahan itu menunjukkan sedikit keausan yang terlihat, dan partikel Mars yang membulat dinilai kurang abrasif dibanding butiran Bulan yang tajam.
  • Debu Bulan pada misi Apollo menggores pelindung wajah, merusak pakaian antariksa, mengotori udara modul, dan menimbulkan gejala mirip demam serbuk sari pada sebagian astronaut.
  • Ancaman debu Mars justru ada pada partikel superhalus sekecil 100 nanometer yang dapat menembus jauh ke paru-paru dan aliran darah, sehingga habitat, pakaian antariksa, dan filter udara harus dirancang untuk menghadapinya.
  • Sifat elektrostatik debu Mars membuatnya mudah menempel pada permukaan tertentu, dan komposisinya mengandung perklorat serta senyawa berpotensi beracun, diperkaya sulfur, besi, dan silika.
  • Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun mengoperasikan rover di Mars, para peneliti menilai debu adalah tantangan yang bisa dipersiapkan dan diatasi untuk misi berawak.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *