Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, resmi mengakhiri misi teleskop luar angkasa Swift setelah upaya penyelamatan terakhir gagal. Pengumuman itu menutup perjalanan sekitar 22 tahun sebuah observatorium yang diluncurkan pada 20 November 2004 dan menjadi salah satu pemburu semburan sinar gamma paling produktif dalam sejarah astronomi.
Swift, yang bernama lengkap Neil Gehrels Swift Observatory, dirancang untuk mendeteksi semburan sinar gamma, ledakan paling energetik di alam semesta yang biasanya menandai kematian bintang masif atau tabrakan bintang neutron. Begitu mendeteksi semburan, teleskop ini dengan cepat mengarahkan instrumennya untuk mengamati sisa cahayanya, sehingga astronom di seluruh dunia bisa melakukan pengamatan lanjutan.
Masalah mulai muncul pada pertengahan Agustus 2026, ketika sistem kendali sikap Swift mengalami gangguan. Kendali sikap adalah kemampuan wahana antariksa untuk mengarahkan dirinya dengan tepat, dan tanpa kemampuan itu teleskop tidak bisa lagi membidik targetnya secara akurat. NASA kemudian mencoba memulihkan wahana tersebut, termasuk lewat upaya penyelamatan yang melibatkan satelit swasta, tetapi upaya itu tidak berhasil mempertemukan satelit penyelamat dengan Swift yang sudah menua di orbit.
Mengapa NASA memutuskan mengakhiri misi ini, bukan terus mencoba? Setelah giroskopnya gagal, Swift tidak lagi dapat dijalankan secara aman dan ilmiah. Sebuah teleskop yang tidak bisa diarahkan dengan tepat tidak dapat menghasilkan data yang bisa diandalkan, dan mempertahankannya dalam kondisi itu hanya menghabiskan sumber daya tanpa hasil ilmiah yang sepadan.
Warisan Swift justru menjadi bagian terpenting dari kabar ini. Selama masa operasinya, Swift mendeteksi lebih dari 1.600 semburan sinar gamma dan datanya melahirkan lebih dari 1.000 makalah ilmiah. Angka itu menggambarkan betapa sentralnya Swift dalam astronomi transien, bidang yang mempelajari peristiwa-peristiwa langit yang berubah dengan cepat.
Bagaimana Swift mengubah cara astronom bekerja? Sebelum Swift, semburan sinar gamma sering kali hanya diketahui setelah cahayanya meredup. Swift memperpendek jeda itu menjadi hitungan detik hingga menit, sehingga teleskop-teleskop lain di Bumi dan di orbit bisa segera mengamati lokasi yang sama. Cara kerja cepat inilah yang kemudian menjadi standar bagi observatorium-observatorium pemburu peristiwa langit berikutnya.
Berakhirnya misi Swift juga mengingatkan bahwa wahana antariksa, sehebat apa pun, memiliki batas usia. Komponen-komponen mekanis seperti giroskop akan aus, dan pada suatu titik biaya serta risiko mempertahankannya melampaui manfaat ilmiahnya. Keputusan NASA untuk mengakhiri misi ini, setelah upaya penyelamatan gagal, adalah penutupan yang wajar bagi sebuah misi yang sudah jauh melampaui usia yang direncanakan.
Bagi komunitas astronomi, Swift akan dikenang bukan karena akhir misinya, melainkan karena dua dekade data yang ia kirimkan. Dari ledakan bintang yang jauh hingga tabrakan bintang neutron, Swift membantu manusia memahami peristiwa-peristiwa paling dahsyat di alam semesta, dan arsip datanya akan terus dipakai para peneliti lama setelah teleskop itu sendiri berhenti beroperasi.
Apa poin penting dari berita ini?
- NASA resmi mengakhiri misi teleskop luar angkasa Swift setelah upaya penyelamatan gagal.
- Swift diluncurkan pada 20 November 2004 dan beroperasi sekitar 22 tahun.
- Masalah kendali sikap muncul pada pertengahan Agustus 2026, dan kegagalan giroskop membuat teleskop tak bisa diarahkan dengan tepat.
- Swift mendeteksi lebih dari 1.600 semburan sinar gamma dan datanya menghasilkan lebih dari 1.000 makalah ilmiah.
- Warisan utamanya adalah pengamatan cepat yang memungkinkan astronom lain segera mengamati lokasi semburan.


