Ribuan mahasiswa di berbagai kota turun ke jalan menyuarakan protes atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung usai. Mereka menuntut agar Presiden Prabowo menetapkan karhutla serta bencana banjir sebagai bencana nasional. Aksi ini dilaporkan pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Dalam aksinya, para mahasiswa menyatakan bahwa mereka berbicara atas nama masyarakat. Kalimat itu menggambarkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan di wilayah yang terbakar, tetapi juga oleh warga di kota-kota yang diselimuti asap, anak-anak sekolah yang belajar di tengah udara buruk, serta petani dan nelayan yang mata pencahariannya terganggu.
Mahasiswa mengajukan setidaknya lima tuntutan dalam aksi tersebut. Tuntutan utamanya adalah penetapan karhutla dan banjir sebagai bencana nasional, sebuah status yang akan mengubah skala penanganan. Bila suatu bencana ditetapkan sebagai bencana nasional, pengerahan sumber daya, anggaran, dan personel dari pemerintah pusat bisa dilakukan lebih besar dan lebih cepat dibandingkan bila penanganannya hanya ditopang pemerintah daerah.
Karhutla memang menjadi persoalan berulang di Indonesia. Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena api menjalar di bawah permukaan dan bisa menyala kembali meski api di permukaan sudah padam. Asapnya menyebar lintas provinsi, bahkan lintas negara, dan menimbulkan gangguan pernapasan, penutupan sekolah, serta pembatalan penerbangan. Kerugian ekonomi yang ditimbulkannya pun tidak kecil, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, hingga pariwisata.
Banjir yang ikut disuarakan mahasiswa berkaitan erat dengan persoalan yang sama. Hutan yang rusak kehilangan kemampuannya menyerap dan menahan air hujan, sehingga air lebih cepat mengalir ke permukiman dan sungai meluap. Karena itu, tuntutan agar banjir ikut ditetapkan sebagai bencana nasional dipandang sebagai satu paket dengan penanganan karhutla.
Aksi mahasiswa ini menambah tekanan publik agar pemerintah mengambil langkah yang lebih tegas, baik dalam penegakan hukum terhadap pembakar lahan maupun dalam pencegahan jangka panjang. Hingga kini, tuntutan mereka masih menunggu tanggapan resmi dari pemerintah, sementara warga di wilayah terdampak berharap asap segera hilang dan udara bersih kembali bisa mereka hirup.
Apa poin penting dari berita ini?
- Ribuan mahasiswa di berbagai kota turun ke jalan memprotes karhutla.
- Mahasiswa menuntut Presiden Prabowo menetapkan karhutla dan banjir sebagai bencana nasional.
- Mahasiswa mengajukan setidaknya lima tuntutan dalam aksi tersebut.
- Para mahasiswa menyatakan mereka berbicara atas nama masyarakat.
- Status bencana nasional memungkinkan pengerahan sumber daya dan anggaran yang lebih besar.
- Karhutla di lahan gambut sulit dipadamkan dan asapnya menyebar lintas wilayah.


