Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Jembrana, Bali, selama beberapa hari terakhir menyebabkan tanah longsor di Kecamatan Mendoyo. Peristiwa utama terjadi pada senderan jalan di Jalan Nakula, Banjar Munduk Anggrek, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo, pada Jumat malam, 30 Oktober 2026, sekitar pukul 20.00 WITA.
Berdasarkan hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jembrana, kerusakan pada senderan tersebut memiliki panjang sekitar 12 meter dan lebar 3 meter, dengan kedalaman jebolan diperkirakan mencapai 20 meter. Hujan deras diduga menimbulkan tekanan air yang tidak mampu ditahan oleh konstruksi penahan tanah tersebut.
Kepala BPBD Kabupaten Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, menyatakan kondisi itu berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama bila kerusakan terus meluas akibat pergerakan tanah maupun hujan susulan. Untuk melindungi warga, petugas segera memasang garis polisi dan menempatkan water barrier di sekitar titik longsor.
Penanganan awal berlangsung mulai pukul 22.13 hingga 23.30 WITA, dengan melibatkan Camat Mendoyo, Kelian Desa Yehembang Kauh, Babinsa, serta warga setempat. BPBD mencatat tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerusakan pada senderan jalan diperkirakan menimbulkan kerugian material sekitar Rp10 juta.
Selain senderan Jalan Nakula, longsor juga terjadi pada jalan desa di Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo. Hingga Sabtu pagi, 31 Oktober 2026, petugas BPBD masih melakukan pengkajian di lokasi tersebut, sehingga penanganan lanjutan menunggu hasil penilaian kondisi tanah di lapangan.
Di lokasi lain, sebuah pohon tumbang di jalan Denpasar-Gilimanuk, kawasan hutan Cekik, Gilimanuk, Kecamatan Melaya. Pohon tumbang itu sempat mengganggu arus lalu lintas, sebelum tim gabungan membersihkannya dan arus lalu lintas kembali normal.
BPBD menekankan perlunya perbaikan segera melalui koordinasi dengan instansi terkait, disertai pemantauan kondisi badan jalan untuk mengantisipasi kemungkinan longsor susulan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur jalan di wilayah perbukitan Jembrana rentan terhadap kerusakan saat curah hujan tinggi, karena tekanan air dan pergerakan tanah dapat melemahkan konstruksi penahan tanah dalam waktu singkat.
Bagi pengguna jalan, kondisi seperti ini menuntut kewaspadaan ekstra, terutama saat melintasi ruas jalan di kawasan perbukitan pada malam hari atau setelah hujan deras yang berlangsung lama. Tanda-tanda seperti retakan baru pada bahu jalan, genangan yang tidak biasa, atau material tanah yang mulai menutupi sebagian badan jalan sebaiknya segera dilaporkan kepada aparat setempat, agar penanganan dapat dilakukan sebelum kerusakan meluas dan membahayakan pengendara yang melintas.
Apa poin penting dari berita ini?
- Hujan deras memicu longsor pada senderan Jalan Nakula, Banjar Munduk Anggrek, Desa Yehembang Kauh, Mendoyo, Jembrana, pada Jumat malam, 30 Oktober 2026, sekitar pukul 20.00 WITA.
- Kaji cepat BPBD Jembrana mencatat kerusakan senderan sepanjang sekitar 12 meter dan lebar 3 meter, dengan kedalaman jebolan sekitar 20 meter.
- Petugas memasang garis polisi dan water barrier di sekitar titik longsor, dan penanganan awal berlangsung pukul 22.13 hingga 23.30 WITA.
- Tidak ada korban luka maupun korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan sekitar Rp10 juta.
- Longsor juga terjadi di jalan desa Penyaringan, Mendoyo, dan pohon tumbang di jalan Denpasar-Gilimanuk kawasan Cekik, Gilimanuk, yang sempat mengganggu lalu lintas sebelum dibersihkan tim gabungan.


