Pemerintah mendorong hilirisasi sejumlah komoditas unggulan Indonesia, mulai dari kelapa sawit, kelapa, hingga rumput laut. Dorongan itu disampaikan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dalam Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Menurut Sarmuji, hilirisasi sumber daya alam adalah titik awal dari proses industrialisasi nasional. Artinya, Indonesia tidak boleh lagi berhenti pada peran sebagai pemasok bahan mentah atau produk setengah jadi. Bahan baku yang melimpah harus diolah di dalam negeri hingga menjadi produk jadi bernilai tambah tinggi, dengan rantai pasok yang utuh dari hulu sampai hilir.
Mengapa hilirisasi menjadi prioritas? Selama ini, nilai tambah terbesar dari komoditas sering dinikmati negara lain yang mengolah bahan mentah Indonesia. Dengan membangun industri pengolahan di dalam negeri, keuntungan yang tinggal di Indonesia menjadi lebih besar: lapangan kerja bertambah, teknologi berkembang, dan daerah penghasil ikut merasakan manfaat ekonomi, bukan hanya menjadi lokasi pengambilan bahan baku.
Sarmuji mencontohkan perjalanan hilirisasi nikel. Komoditas yang semula hanya diolah pada tahap dasar kini terus bergerak menuju produk antara, komponen baterai, hingga kendaraan listrik. Pola yang sama hendak diterapkan pada komoditas lain, termasuk kelapa sawit dan rumput laut, agar keduanya menjadi keunggulan yang sulit ditiru negara lain.
Untuk rumput laut, spektrum pemanfaatannya sangat luas. Selain pangan, rumput laut dapat diolah menjadi agar dan karagenan, bahan farmasi dan kosmetik, nutraceutical, biomaterial, hingga bioplastik. Potensi itu secara langsung dapat mendongkrak perekonomian masyarakat pesisir, tempat bahan baku tersebut banyak dihasilkan.
Kelapa sawit pun memiliki jalur hilirisasi yang panjang, dari minyak goreng dan oleokimia sampai produk perawatan tubuh dan makanan olahan. Pemerintah juga mendorong keterlibatan industri kecil dan menengah dalam rantai pasok ini, antara lain lewat kemitraan dengan perusahaan besar, insentif, dan program restrukturisasi mesin untuk meningkatkan produktivitas.
Agar hilirisasi berjalan, Kementerian Perindustrian konsisten mengawal kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta kepastian pasokan bahan baku dengan harga kompetitif. Sarmuji menargetkan utilisasi industri pengolahan nonmigas naik dari 66,13 persen pada triwulan II 2026 menjadi 80 hingga 85 persen. Berdasarkan simulasi Badan Pusat Statistik, setiap Rp1 belanja produk dalam negeri mampu memberikan dampak ekonomi sebesar Rp2,2 bagi pertumbuhan nasional.
Pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi tidak diukur semata dari besarnya investasi yang masuk, melainkan dari terbangunnya ekosistem industri yang hidup: petani dan nelayan tersambung ke pabrik, pabrik tersambung ke pasar, dan nilai tambah tinggal di Indonesia.
Apa poin penting dari berita ini?
- Pemerintah mendorong hilirisasi komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kelapa, dan rumput laut untuk meningkatkan nilai tambah.
- Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyampaikan hal itu dalam Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta pada Jumat 30 Oktober 2026.
- Hilirisasi diposisikan sebagai titik awal industrialisasi, bukan sekadar mengolah bahan mentah menjadi produk antara.
- Rumput laut berpotensi diolah menjadi pangan, agar, karagenan, farmasi, kosmetik, hingga bioplastik yang menggerakkan ekonomi pesisir.
- Kemenperin mengawal TKDN dan menargetkan utilisasi industri pengolahan nonmigas naik dari 66,13 persen menjadi 80 hingga 85 persen.


